Inspirasi

BAHAGIAKU BERSAMAMU

Oleh: Sitti Dahlia Azis

Dalam meriahnya pesta, disaat  riuh rendahnya suara puji dan kekaguman pada diri seorang guru dan penulis … Dahlia merasa menemukan diri diantara penduduk Indonesia yang berprofesi guru dan penulis. Dia kelihatan bahagia, ceria walaupun tersirat rasa lelah. Seakan berpacu dengan waktu aktivitas terjadwal hanya ada isoma (istirahat, solat dan makan).  meeting dan membahas praktik baik yang dilaksanakan di sekolah masing-masing. Ada persentase dari perwakilan setiap  regional.

Mereka mengikuti puncak acara hari guru nasional 2022. Ada suguhan konser Band Coklat dan Dahlia menyempatkan diri meliput rangkaian acara itu. Empat sekawan dan ketua begitu dekat  dari panggung yang dipandu oleh Gilang Dirga dan Oki Sulistyowati. Berada di barisan belakang sebelah kanan Pak Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Mas Nadiem Makarim, tepatnya barisan ke-4 bangku di JlExpo Kemayoran.

Malam harinya lanjut acara di hotel Mercure BSD Tangerang. Ada keceriaan berbagi face breaking dan juga arahan dari ibu Fitriana stap ahli Kemendikbudristek RI juga lagu dari Korwil regional Sumatera ada lagu Kemesraan yang menutup acara dan di situlah mereka duduk di samping Ibu Fitri.

Pukul 21.30 acara selesai dan 4 sahabat dari Komunitas Pengajar Regional Sulawesi menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke mall yang ada di dekat hotel. Jalan bareng berenam dengan rekan dari Sulawesi yakni Pak Ketua Kusnan, Pak Hasby, Ibu Satriana Pak Ahkam, Ibu Lance dan Ibu Dahlia. Rencana mencari souvenir untuk teman. Ya sekedar ole-ole dari Jakarta dan juga ada pesanan dari putra ibu Dahlia membeli speaker untuk laptop. Tapi tidak lama Pak Ketua dan Pak Hasby terpisah dari mereka. Mungkin ada keperluan di tempat lain.

Sayang sekali harga di mall tidak sama dengan harga pasaran yang kami ketahui. Terlebih Dahlia memang tidak membawa uang banyak seperti teman lainnya walaupun ada sertifikasi tapi tetap hemat agar bisa berkarya lagi dan mencetak buku baru.

Pukul 22.00 AEON harus ditutup. Empat sekawan yang sejak tadi cuci mata di mall itu harus mengambil jalan pintas yang dipandu oleh Pak Ahkam. Dahlia sebagai orang yang pertama datang di Jakarta sekedar ikut saja.

“Pak. Kita lewat mana ini kok hanya ada kendaraan?” tanya Dahlia ke Pak Ahkam setelah melihat jejeran mobil mewah yang keluar dari tempat parkiran.

“Lewat sana Bu ikut saja.” jawab Ahkam.

Ibu Dahlia, ibu Satriana, Lance mempercepat langkah. Betapa penatnya keliling dari lantai 3 ke lantai 1 lewat jalan yang dilintasi oleh mobil. Dahlia  yang tidak terbiasa jalan jauh kadang tertinggal.

“Duh Pak kita salah jalan. Mau lewat mana lagi pak ini jalur kendaraan.” Ibu Satriana kesal.

Pak Ahkam menghentikan langkahnya lalu duduk di trotoar. Tawanya mulai lepas.

“Hahaha … Saya kerjain seorang penulis Bunda Dahlia itu memang tidak kuat jalan. Jadi saya latih dulu.”

Sejenak pasukan gerak malam ini duduk di trotoar. Lalu kembali bergerak menuju hotel.

“Hmmm … sudah tahu saya capek dari JlExpo …  masuk belajar, meeting … lho kok dikerjain?” sungut Dahlia ikut mempercepat langkahnya.

Pak Ahkam tidak membalas kalimat Ibu Dahlia selain menepuk pahanya dan berdiri meneruskan langkahnya. Tiga emak yang mengawal ikut saja sambil memandang Hotel Mercure.

“Itu … hotel kita sudah dekat.” Seru Ibu Lance dan menambah laju langkahnya.

“Iya deh, tapi ini sudah muter-muter. Badanku terasa pegal.” sahut ibu Dahlia sedikit cengeng.

Tawa Ibu Satriana dan Pak Ahkam meledak lagi. Dasar dia memang kuat jalan.

Pak Ahkam dan Ketua kamarnya di lantai 7. Tiga sekawan di lantai 5.

Saat Dahlia kembali ke kota kelahiran saat itu ada harapan dapat bertemu keluarga dari ayah. Di kabupaten Takalar. Tapi … terpisah dari teman dari Kendari, sementara ini pengalaman pertama bepergian jauh. Sebelum bertemu dari awal Dahlia meminta temannya yang dari Kendari menjemput dan mengantarnya sampai  bandara Sultan Hasanuddin, Mandai-Makassar.

Lance, berkata ke Dahlia, “Terus saja ke kota Makassar. Nanti di bandara Hasanuddin …  Ibu Satriana dan Pak Ahkam ke Kendari. Saya dan Pak Kusnan ke Manado.”

Dahlia terdiam ada resah berbaur harapan di palung hatinya. “Apakah hanya karena materi? Apakah hanya karena uang kita berhenti mengembangkan literasi? Mulai saat itu dia bertekad untuk terus menjadi pengembang literasi. Ingin menjadi motivator literasi walau sudah purna bakti.

Dengan berat hati dia meminta ibu Satriana dan pak Ahkam transit di Makassar dan melanjutkan perjalanan ke Kendari. Pengalaman berharga yang tentunya tak terlupakan.

Kehadiran mereka  di Jakarta adalah fasilitas negara. Menjadi perwakilan regional Sulawesi mengikuti Seminar HGN 2022 dan Lokakarya di JlExpo pada Puncak acara HGN 2022.

Untuk Ketua dan sahabat di Komunitas Kami Pengajar Sulawesi/MGMP/PMM/APK PUSPEKA

😇Salam cerdas berkarakter.🤩 Pinrang, 25 Januari 2024

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda