Ramadhan dan Seni Kembali kepada Diri dan Ilahi

Penulis: Sudarmin Tandi Pora’, Pendidik di MTsN 1 Tana Toraja
Ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Ia bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah, melainkan ruang jeda di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Di saat dunia bergerak semakin cepat dengan tuntutan, kompetisi, dan arus informasi yang nyaris tanpa henti. Ramadhan hadir membawa satu kata kunci yang sederhana namun dalam: kembali.
Kembali di Tengah Keriuhan
Dunia pendidikan pun tak luput dari keriuhan zaman. Target capaian, kurikulum yang terus berkembang, dinamika peserta didik, hingga tekanan administratif sering kali menyita energi lahir dan batin. Dalam situasi seperti itu, makna belajar dan mengajar bisa saja bergeser dari proses memanusiakan manusia menjadi sekadar rutinitas yang harus dituntaskan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk berhenti sejenak. Ia mengajak setiap insan pendidikan guru, siswa, tenaga kependidikan, hingga orang tua untuk kembali menanyakan pada diri: untuk apa semua ini dijalani? Apa tujuan terdalam dari ilmu yang dicari dan diajarkan?
Kembali berarti menyadari ulang bahwa pendidikan sejatinya adalah proses pembentukan karakter dan jiwa. Ia bukan hanya tentang angka dan prestasi, tetapi tentang akhlak, ketulusan, dan tanggung jawab.
Ujian yang Menguatkan, Bukan Menjauhkan
Tidak dapat dimungkiri, ujian dan cobaan adalah bagian dari kehidupan. Dalam dunia pendidikan, ujian hadir dalam berbagai bentuk: keterbatasan sarana, tantangan moral generasi muda, hingga kegelisahan menghadapi perubahan zaman. Secara ideal, setiap ujian seharusnya membuat iman dan integritas semakin kokoh.
Namun realitasnya, tak jarang tekanan justru membuat hati menjadi lelah dan jauh. Rutinitas yang padat dapat mengikis keikhlasan. Tantangan yang berat bisa melahirkan keluh kesah yang panjang.
Di sinilah Ramadhan mengambil peran penting. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan kesabaran, pengendalian diri, dan kejernihan hati. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan menguasai keadaan, melainkan pada kemampuan menguasai diri.
Ramadhan adalah momentum untuk menguatkan kembali fondasi spiritual yang mungkin retak oleh beban kehidupan.
Kembali Menata Niat
Dalam tradisi Islam, setiap amal bergantung pada niatnya. Pendidikan pun demikian. Mengajar akan bernilai ibadah ketika dilandasi niat untuk memberi manfaat. Belajar akan bernilai tinggi ketika diniatkan untuk memperbaiki diri dan memberi kebaikan bagi sesama.
Ramadhan menghadirkan ruang refleksi untuk menata ulang niat yang mungkin sempat kabur. Ia mengajak kita kembali pada kesadaran bahwa ilmu adalah amanah. Bahwa setiap kata yang diucapkan di ruang kelas, setiap keputusan yang diambil di ruang rapat, dan setiap usaha yang dilakukan untuk mendampingi generasi muda adalah bagian dari tanggung jawab moral yang besar.
Kembali berarti memperbarui komitmen. Kembali berarti menghidupkan lagi semangat pengabdian.
Kembali kepada Diri dan Ilahi
Makna terdalam dari kembali adalah pulang—pulang kepada diri yang jernih dan kepada Tuhan yang Maha Pengasih. Di tengah berbagai distraksi, manusia sering kali tercerabut dari pusat dirinya. Ramadhan memanggil kita untuk menemukan kembali pusat itu.
Dalam kesunyian sahur dan khusyuknya doa di waktu berbuka, ada kesempatan untuk berdialog dengan hati sendiri. Ada ruang untuk memohon ampun, memperbaiki langkah, dan merancang masa depan dengan lebih bijaksana.
Bagi dunia pendidikan, Ramadhan adalah kesempatan kolektif untuk membangun budaya yang lebih beradab dan berempati. Sekolah dan kampus bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ladang penyemaian nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah momentum transformasi. Ia mengajarkan bahwa dalam hidup, selalu ada kesempatan untuk kembali—kembali memperbaiki, kembali menguatkan, kembali mendekat.
Di tengah dunia yang semakin riuh, mungkin yang paling kita butuhkan bukanlah langkah yang lebih cepat, melainkan hati yang lebih tenang. Dan Ramadhan, dengan segala kesederhanaannya, menawarkan jalan itu.
Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi perjalanan pulang. Bukan hanya menuju akhir bulan yang fitri, tetapi menuju diri yang lebih utuh dan iman yang lebih kuat.***



