Isra Mi’raj: Saatnya Pulang, Menghitung Bekal Kehidupan

Sudarmin Tandi Pora’, Pendidik di MTsN 1 Tana Toraja
Di zaman yang bergerak serba cepat, manusia sering kali merasa paling sibuk, paling lelah, dan paling kehabisan waktu. Hari-hari dipenuhi agenda, target, notifikasi, dan tuntutan hidup yang nyaris tak memberi ruang untuk berhenti. Kita berlari tanpa jeda, hingga lupa bertanya: ke mana sebenarnya kita sedang menuju?
Peringatan Isra Mi’raj hadir bukan sekadar sebagai peristiwa monumental dalam sejarah Islam, melainkan sebagai undangan lembut untuk berhenti sejenak. Sebuah momen spiritual yang mengajak manusia modern—yang terlalu sering menunduk pada layar—untuk kembali menengadah, merenung, dan melakukan introspeksi terdalam.

Isra Mi’raj adalah perjalanan ruhani Nabi Muhammad SAW, tetapi pesan utamanya justru dititipkan kepada umatnya: tentang makna kedekatan dengan Allah, tentang kebutuhan manusia akan ketenangan batin, dan tentang sholat sebagai poros kehidupan. Di tengah dunia yang bising, sholat hadir sebagai ruang sunyi yang menenangkan; tempat manusia kembali menjadi dirinya sendiri—lemah, berharap, dan berserah.
Fenomena kelelahan zaman hari ini bukan semata kelelahan fisik, melainkan kelelahan jiwa. Banyak orang memiliki segalanya, tetapi kehilangan rasa cukup. Banyak yang tampak kuat, namun rapuh di dalam. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa solusi hidup tidak selalu terletak pada menambah kesibukan, melainkan pada keberanian untuk pulang—menghitung bekal, menata niat, dan memperbaiki arah.
Sholat, yang diperintahkan langsung tanpa perantara dalam peristiwa Isra Mi’raj, bukan sekadar kewajiban ritual. Ia adalah kunci ketenangan hidup. Sholat mengajarkan disiplin, kesadaran, dan kejujuran pada diri sendiri. Di sanalah manusia belajar berhenti dari hiruk-pikuk dunia dan kembali mengingat sumber segala hidup: Allah SWT.
Momentum Isra Mi’raj seharusnya melahirkan tekad baru—bukan yang hingar-bingar, tetapi yang sunyi dan dalam. Tekad untuk memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, dan menumbuhkan kepekaan sosial. Sebab spiritualitas sejati tidak berhenti di sajadah, tetapi menjelma dalam akhlak, empati, dan tanggung jawab kemanusiaan.
Mungkin kita tidak mampu menempuh perjalanan langit sebagaimana Nabi, tetapi kita selalu bisa menempuh perjalanan ke dalam diri. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang sejauh apa kita melangkah, tetapi seberapa sering kita kembali—kepada Allah, kepada nilai, dan kepada makna hidup yang sesungguhnya.
Di tengah dunia yang melelahkan, barangkali yang paling kita butuhkan bukan tambahan waktu, melainkan kedalaman makna. Dan di sanalah sholat, amal saleh, serta kesadaran ilahiah menemukan tempatnya—menjadi penopang jiwa, sekaligus cahaya dalam perjalanan hidup manusia.
Selamat Memperingati Isra’ Mi’Raj. Semoga moment ini menjadi kaselerasi kesadaran jiwa sekaligus katalisator menuju perubahan yang lebih baik. Terutama menjaga sholat yang bukan sekedar kewajiban namun juga titik kembali dari sebuah kelalaian menjadi sebuah keridhoan.
“Wallāhu a‘lamu biṣ-ṣawāb.”



