Opini

Tiga Meja di Belakangmu: Sebuah Resonansi dari SMAN 1 Pinrang (1988-1991)

Penulis : Muhammad Hayat NT ( Kasi PSMK dan PKPLK Cabdis VIII, alumni SMAN 1 Pinrang angkatan 1991)

Di kelas 3 Budaya/Bahasa  SMAN 1 Pinrang, tahun 1991 adalah sebuah panggung sandiwara yang sunyi. Di sana, di antara aroma kapur tulis dan buku-buku sastra, seorang pelajar  duduk dengan perasaan yang bergemuruh. Jaraknya hanya dipisahkan oleh tiga meja pas di belakang seorang gadis kalem bernama Isappe. Namun, jarak tiga meja itu terasa seperti bentangan samudra yang tak terseberangi.
Dalam sebuah momen keberanian yang rapuh, pelajar itu menuliskan sebuah surat. Sebuah surat yang meminjam ruh dari kisah klasik Roman Picisan:
“Kepada Isappe temanku yang selalu kurindukan…
Mengapa perasaanku sama yang dirasakan oleh Roman dalam novel Eddy D. Iskandar? Roman selalu cemburu melihat Wulan bersama lelaki lain, padahal mereka hanya teman biasa. Akupun demikian, Isappe. Aku selalu cemburu melihat dindaku Isappe bersama lelaki lain, padahal kita hanyalah teman sekelas. Tapi itulah uneg-uneg hatiku yang telah hampir enam cawu Aku pendam…”
Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah pengakuan jujur tentang rasa cemburu yang tidak sah, sebuah rasa yang hanya dimiliki oleh mereka yang mencintai dalam diam.
Kisah ini menyentuh karena ia menangkap esensi cinta remaja era 90-an yang paling jujur, Cemburu tanpa status. Mengidentikkan diri dengan tokoh Roman adalah cara terbaik untuk menggambarkan betapa sesaknya melihat Wulannya sendiri Isappe tertawa dengan orang lain, sementara ia hanya bisa memandang punggungnya dari barisan meja ketiga.
Ada kepedihan yang manis di sana, sebuah ironi di mana seseorang merasa memiliki hak untuk cemburu, padahal kenyataannya mereka hanyalah teman sekelas.
Hingga hari ini, surat itu tidak pernah dijawab. Uneg-uneg itu tetap menjadi misteri yang tersimpan di bawah laci meja sekolah yang mungkin kini sudah berganti. Namun, justru di situlah letak kekuatannya.
Dengan tidak membalas, sosok Isappe tetap menjadi Dinda yang suci dalam ingatan. Ia tidak pernah menjadi mantan, ia tidak pernah menjadi luka, ia adalah sebuah keindahan yang tak tergapai.
Surat itu mungkin tidak pernah mendapatkan balasan di atas kertas, tapi ia telah mendapatkan balasan dari waktu. Ia berubah menjadi nostalgia yang mendewasakan.
Bagi siapa pun yang pernah duduk di bangku SMA dan merasakan pedihnya cemburu tanpa kepemilikan, kisah dari SMAN 1 Pinrang ini adalah sebuah refleksi. Bahwa terkadang, “tiga meja di belakang” adalah jarak terjauh sekaligus terdekat yang pernah kita tempuh untuk mencintai seseorang dengan setulus hati.***

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda