Daerah

Menjaga Kejernihan di Tengah Gelombang Literasi

Oleh: Dra. Sitti Dahlia Azis, Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025

Dalam komunitas literasi, setiap karya yang lahir dari pena adalah cerminan hati dan pikiran penulis. Aku menyadari bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan banyak buku, tetapi menjaga kejernihan makna dan integritas karya.
Ketika buku solo *Senandung Pucuk Pinus* diproses untuk verifikasi oleh Disdik Sulsel, aku belajar banyak tentang nilai kesabaran dan seleksi karya. Dari 850 judul yang masuk, aku hanya mengirim 30. Dari 30 itu, salah satunya berhasil lolos verifikasi, mendapat endorsement dari Pak Kacabdis, dan aku dipanggil untuk mengikuti Bimtek yang dipandu oleh  bapak Faisal Odang dan beberapa profesor sastra.
Pengalaman ini bukan sekadar soal kebanggaan, tetapi juga pelajaran berharga tentang integritas dan etika menulis. Aku menyadari bahwa dalam proses tersebut, beberapa karya peserta mengalami masalah plagiat—sekitar 65% naskah yang kami telaah di Dahlia Pustaka. Namun aku tidak pernah mengungkap siapa yang menyalin. Harga diri teman lebih penting daripada sekadar menyebut kesalahan mereka.
Bagi teman-teman pemula, mengikuti bimbingan dengan tekun, menulis ulang naskah sesuai revisi, dan memperbaiki kesalahan adalah proses pembelajaran. Sedangkan bagi teman yang sudah lebih berpengalaman, meski melakukan copy-paste, aku tetap membimbing mereka hingga karya layak diterbitkan.
Aku selalu ingat pesan adikku:
“Jangan sombong, tidak perlu like dan komentar yang manis-manis sebab itu akan melenakan kamu dan akhirnya lupa diri.”
Prinsip itu menjadi filter spiritual dan moral dalam setiap langkah literasi. Kritik atau peringatan tidak perlu dibesar-besarkan; yang penting adalah menjaga kualitas karya dan keharmonisan komunitas.
Dalam bimbingan, aku selalu menekankan:
Gali ilmu, lalu aksi (Penyair GILA)
Tiga tetes minyak wangi: berikan secukupnya arahan tapi penuh makna.
Kejernihan karya lebih utama daripada jumlah karya atau pujian
Aku belajar bahwa menulis adalah perjalanan panjang dari ruang sunyi menuju cahaya. Setiap naskah, setiap kata, harus melalui penyaringan pikiran, hati, dan doa, agar ketika lahir, tulisan itu jernih dan memberi kehidupan bagi pembaca.
Pengalaman Bimtek itu, trik deteksi plagiat, dan dinamika teman seangkatan bukan sekadar cerita, tetapi pelajaran nyata bagi siapa pun yang ingin menulis dengan integritas. Literasi bukan sekadar kemampuan menulis, tetapi memahami etika, menghargai proses, dan menjaga hubungan dengan sesama penulis.
Dari ruang sunyi menuju cahaya, aku belajar bahwa tulisan yang lahir dari kesabaran dan hati yang jernih akan mengalir seperti mata air, menyuburkan jiwa yang membacanya.@SDA
Pinrang, 12 Maret 2026

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda