Ketum IKAPROBSI Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, Sebut Penggunaan Bahasa Asing Berlebihan di Seminar Internasional sebagai Tuna Harga Diri

Makassar. Ketua Umum Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI), Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., menyoroti masih adanya forum bertajuk seminar internasional yang dilaksanakan di Indonesia, diikuti mayoritas peserta Indonesia, tetapi justru menggunakan bahasa asing sebagai bahasa utama.
Menurutnya, praktik tersebut menunjukkan lemahnya rasa percaya diri terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, bahasa ilmu pengetahuan, dan bahasa komunikasi akademik.
“Seminar internasional, apalagi dilaksanakan di Indonesia dan pesertanya orang Indonesia, seharusnya menggunakan bahasa Indonesia. Kalau kita sendiri tidak percaya diri menggunakan bahasa Indonesia dalam forum ilmiah, itu namanya tuna harga diri,” tegas Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., kepada wartawan di Makassar, Jumat (7/8/2026).
Pernyataan itu disampaikan menjelang pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) X dan Seminar Internasional IKAPROBSI yang berlangsung di Makassar, 7–8 Agustus 2026, dengan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar sebagai tuan rumah.
Konferensi pers digelar di Hotel Four Points by Sheraton Makassar dan turut dihadiri Sekretaris Jenderal IKAPROBSI, Prof. Dr. Suherli Kusmana, M.Pd., Ketua IKAPROBSI Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., serta Bendahara Umum IKAPROBSI Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara Prof. Dr. Dra. Munirah, M.Pd.
Bahasa Indonesia Harus Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd. mengatakan, internasionalisasi sebuah forum tidak semestinya diukur hanya dari bahasa asing yang digunakan.
Menurut Guru Besar Universitas Sebelas Maret itu, seminar dapat disebut internasional apabila melibatkan peserta, pembicara, jejaring, serta pertukaran gagasan dari berbagai negara. Penggunaan bahasa Indonesia justru dapat menjadi bagian dari strategi memperkenalkan bahasa nasional ke dunia internasional.
“Internasional itu bukan berarti semuanya harus menggunakan bahasa asing. Justru ketika forum internasional dilaksanakan di Indonesia, kita harus menunjukkan bahwa bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa akademik dan bahasa ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Ia menilai penggunaan bahasa Indonesia di forum ilmiah juga memiliki dimensi kebangsaan karena bahasa merupakan identitas dan modal daya saing bangsa.
“Kalau kita ingin menjadi bangsa unggul dan mampu memenangi persaingan global, bahasa nasional harus memiliki posisi yang kuat. Bahasa Indonesia tidak boleh hanya menjadi bahasa komunikasi sehari-hari, tetapi juga harus menjadi bahasa pendidikan, ilmu pengetahuan, diplomasi, dan pergaulan internasional,” katanya.
Menurut Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., perkembangan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) menunjukkan peluang besar dalam memperluas posisi bahasa Indonesia di tingkat global.
Ia menyebut bahasa Indonesia saat ini telah dipelajari di sekitar 45 negara melalui ratusan lembaga pendidikan. Kondisi tersebut menurutnya harus direspons dengan rasa percaya diri yang lebih besar di dalam negeri.
“Orang asing saja belajar bahasa Indonesia. Jangan sampai justru kita yang berada di Indonesia malu atau merasa kurang bergengsi menggunakan bahasa sendiri di forum akademik,” katanya.
Soroti Bahasa Media Massa
Selain forum akademik, Ketua Umum IKAPROBSI juga menilai tantangan besar penggunaan bahasa Indonesia justru muncul di ruang publik, termasuk media massa.
Menurutnya, media memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat sehingga ketepatan, kecermatan, dan konsistensi penggunaan bahasa Indonesia harus mendapat perhatian.
“Tantangan terbesar kita salah satunya ada di media massa. Bahasa yang digunakan media akan dibaca dan ditiru masyarakat. Karena itu, penggunaan bahasa Indonesia yang baik bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga bagian dari pembinaan bahasa nasional,” ujar Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd.
Rakernas Akan Hasilkan Rekomendasi
Rakernas X IKAPROBSI mengangkat tema “Penguatan Peran Bahasa Indonesia di Era Kompetisi Global.”
Forum tersebut akan mengevaluasi program kerja organisasi sekaligus merumuskan agenda strategis di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kurikulum, serta kebijakan kebahasaan.
Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd. mengatakan rekomendasi hasil Rakernas dan Seminar Internasional akan disampaikan kepada pemerintah, kementerian terkait, serta Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
“Kita ingin hasil forum ini tidak berhenti sebagai diskusi. Harus ada rekomendasi yang dikawal agar dapat direalisasikan dalam kebijakan,” ujarnya.
Salah satu isu yang akan menjadi perhatian ialah pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, tetapi penggunaannya harus dibarengi etika dan tanggung jawab akademik.
“AI boleh dimanfaatkan, tetapi jangan sampai menghilangkan proses berpikir, kreativitas, dan integritas. Etika pemanfaatannya harus menjadi bagian dari pendidikan,” katanya.
249 Pemakalah Ikut Seminar
Seminar internasional IKAPROBSI di Makassar diikuti sekitar 249 pemakalah melalui sesi luring dan daring. Para peserta mempresentasikan berbagai hasil penelitian mengenai bahasa, sastra, pembelajaran, teknologi pendidikan, dan persoalan mutakhir dalam pengembangan bahasa Indonesia.
Sekretaris Jenderal IKAPROBSI, Prof. Dr. Suherli Kusmana, M.Pd., mengatakan Rakernas juga menjadi ruang konsolidasi pengelola program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk memperkuat mutu akademik.
Ia menjelaskan, organisasi tersebut secara resmi kini bernama Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tetapi singkatan IKAPROBSI tetap dipertahankan karena telah dikenal luas di lingkungan akademik.
Sementara itu, Ketua IKAPROBSI Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., berharap forum di Makassar mampu menghasilkan langkah konkret memperkuat posisi bahasa Indonesia setelah semakin memperoleh pengakuan internasional.
“Bahasa Indonesia sudah memiliki ruang yang semakin luas di tingkat internasional. Karena itu, tugas kita sekarang adalah memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan kompetensi calon guru, memperluas jejaring akademik, dan memastikan bahasa Indonesia semakin diperhitungkan secara global,” kata Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum.
Menurut Wakil Rektor I Unismuh Makassar tersebut, kehadiran pejabat pemerintah, akademisi, serta peserta dari berbagai perguruan tinggi diharapkan memperkuat jejaring program studi sekaligus meningkatkan reputasi dan akreditasi.
Rakernas X dan Seminar Internasional IKAPROBSI juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan Adi Karyapradana kepada dosen yang dinilai memiliki dedikasi dalam pengembangan organisasi dan pendidikan bahasa Indonesia, serta penyerahan penghargaan Kompetisi Kreativitas Mahasiswa.
Bagi Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., seluruh rangkaian tersebut bermuara pada satu tujuan: menjadikan bahasa Indonesia semakin berwibawa di negeri sendiri sekaligus mampu berdiri sejajar dengan bahasa-bahasa dunia.
“Kalau kita ingin bahasa Indonesia dihormati dunia, kita sendiri harus terlebih dahulu menghargai dan menggunakannya dengan penuh percaya diri,” pungkasnya.(yamus)



