Berita

Dari Alam untuk Kreativitas: Model Pembelajaran Seni Rupa Terapan Karya Dr. Sri Darmawati, M.Pd Terbukti Sangat Valid, Praktis, dan Efektif

Makassar,  –  Sebuah penelitian karya Dr. Sri Darmawati, M.Pd, dosen FSD UNM, berhasil mengembangkan sebuah model pembelajaran yang tidak hanya inovatif secara akademik, tetapi juga sangat humanis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Model tersebut adalah Model Pembelajaran Seni Rupa Terapan Berbasis Pemanfaatan Potensi Alam Lokal untuk meningkatkan kreativitas siswa SMA.

Penelitian ini berangkat dari sebuah kegelisahan yang sering dirasakan guru seni budaya di sekolah. Pembelajaran seni rupa terapan selama ini cenderung masih bersifat teoritis, berpusat pada buku teks, dan jauh dari lingkungan siswa. Siswa diminta menggambar dan berkarya, tetapi bahan yang digunakan seringkali tidak mereka kenal, tidak mereka temukan di sekitar rumah, dan tidak memiliki ikatan emosional dengan mereka. Akibatnya, kreativitas siswa tidak tumbuh maksimal, karya yang dihasilkan pun terasa kaku dan kurang bermakna.

Berangkat dari kegelisahan itulah, Dr. Sri Darmawati, M.Pd mencoba menawarkan sebuah solusi yang sederhana namun sangat mendalam: kembalikan seni kepada alam dan lingkungan siswa itu sendiri. Jika di sekitar siswa ada bambu, pelepah pisang, kerang, pasir, daun, batu, dan berbagai bahan alam lokal lainnya, mengapa tidak dijadikan sebagai media belajar dan media berkarya? Dari ide itulah lahir model pembelajaran yang kontekstual, kreatif, dan relevan dengan kehidupan siswa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran seni rupa terapan berbasis pemanfaatan potensi alam lokal untuk meningkatkan kreativitas siswa SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development atau R&D dengan mengadaptasi model 4D yang meliputi empat tahap utama, yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), dan tahap penyebaran (disseminate). Setiap tahap dilakukan secara sistematis dan melalui validasi yang ketat agar model yang dihasilkan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Subjek uji coba dalam penelitian ini adalah 30 siswa kelas XII SMAN 3 Pangkep tahun pelajaran 2022/2023. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Kabupaten Pangkep dikenal kaya akan potensi alam lokal, mulai dari hasil laut, pertanian, hingga bahan-bahan alami yang melimpah dan mudah diakses siswa. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih hidup, karena siswa belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui berbagai teknik yang komprehensif, yaitu validasi ahli dan praktisi, observasi aktivitas siswa, angket respons siswa dan guru, penilaian kemampuan guru mengelola pembelajaran, serta tes hasil belajar dan kreativitas. Dengan teknik yang beragam ini, penelitian tidak hanya melihat hasil akhir karya siswa, tetapi juga melihat proses, aktivitas, respons, dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang sangat membanggakan dan patut diapresiasi. Pertama, model dan perangkat pembelajaran yang dikembangkan memperoleh kategori sangat valid berdasarkan penilaian ahli dan praktisi. Artinya, dari segi isi materi, bahasa, desain pembelajaran, dan kesesuaian dengan kurikulum, model ini sudah dinilai sangat layak untuk digunakan di sekolah.

Kedua, uji coba pembelajaran memperlihatkan bahwa model tergolong praktis karena hampir seluruh komponen pembelajaran terlaksana sesuai rancangan. Guru tidak merasa kesulitan dalam menerapkan model ini, dan siswa pun dapat mengikuti setiap tahapan pembelajaran dengan baik. Kepraktisan ini menjadi bukti bahwa model ini bukan hanya bagus di atas kertas, tetapi juga mudah diterapkan di kelas yang sesungguhnya.

Ketiga, model juga dinyatakan efektif karena ketuntasan belajar klasikal tercapai. Aktivitas siswa selama pembelajaran sesuai dengan kriteria yang diharapkan, yaitu siswa aktif bereksplorasi, berdiskusi, mencoba, dan berkarya. Kemampuan guru mengelola pembelajaran juga berada pada kategori sangat baik. Selain itu, respons siswa dan guru terhadap pembelajaran menunjukkan kecenderungan positif. Siswa merasa senang, termotivasi, dan lebih percaya diri dalam berkarya.

Temuan ini menegaskan bahwa pemanfaatan bahan alam lokal dapat memperkaya pengalaman belajar, mendorong eksplorasi bentuk dan fungsi, serta menumbuhkan keterampilan berkarya siswa. Siswa tidak lagi belajar seni hanya dari gambar di buku, tetapi langsung menyentuh, merasakan tekstur, mencium aroma bahan alam, dan mengubahnya menjadi karya seni terapan yang fungsional dan estetik, seperti, hiasan dinding, tempat pensil, dan berbagai produk kreatif lainnya.

“Pembelajaran seni harus kontekstual. Ketika siswa berkarya dari alam sekitarnya, kreativitasnya tumbuh lebih alami, lebih jujur, dan lebih bermakna. Mereka tidak hanya membuat karya, tetapi juga belajar mencintai lingkungannya,” ungkap Dr. Sri Darmawati, M.Pd.

Dengan demikian, model pembelajaran seni rupa terapan berbasis potensi alam lokal ini dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran seni budaya yang kontekstual, kreatif, dan relevan dengan lingkungan siswa. Model ini juga dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru seni budaya lainnya untuk tidak terpaku pada bahan pabrikan yang mahal, tetapi memanfaatkan kekayaan alam lokal yang melimpah dan gratis. Penelitian Dr. Sri Darmawati, M.Pd ini menjadi bukti nyata bahwa sebagai dosen FSD UNM terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran seni yang unggul, humanis, dan berpihak pada kearifan lokal. Semoga karya ini dapat menginspirasi lebih banyak penelitian dan pembelajaran seni yang membumi di Indonesia. (SDM)

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda