Daerah

Kemah Bahasa dan Seni Wilayah VIII: Bahas Tuntas Puisi Wajib Asrul Sani, Siapkan Diri Hadapi Lomba Musikalisasi Se-Sulsel dan Sulbar

PAREPARE – Berdasarkan surat undangan tertanggal 11 Mei 2026 yang ditandatangani Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII, kegiatan Kemah Sastra dan Seni resmi dibuka Jumat (15/5/2026) bertempat di SMK Negeri 1 Pinrang.
Kegiatan yang berlangsung hingga Sabtu (16/5) ini digelar khusus sebagai langkah persiapan matang menghadapi Festival Musikalisasi Puisi (FMP) Tingkat SMA dan Sederajat Se-Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat tahun 2026 yang diselenggarakan Balai Bahasa Sulawesi Selatan.
Sebagai langkah awal dan materi utama pada hari pertama, panitia dan peserta mendalami secara tuntas puisi wajib berjudul Anak Laut karya penyair besar , Asrul Sani. Pembahasan tidak hanya berhenti pada membaca teks, namun menafsirkan makna mendalam, menggali ide syair, karakter pembawaan, hingga menentukan standar irama dan tempo yang tepat agar peserta mampu menerjemahkan isi karya menjadi seni suara yang utuh dan bermakna.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII, Baharuddin Iskandar, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai bekal kompetisi. “Lomba musikalisasi puisi adalah siswa terbaik di Sulawesi Selatan dan di Sulawesi Barat, persaingan tentu sangat ketat. Oleh karena itu, kami adakan kemah ini agar sekolah-sekolah punya persiapan yang matang, tidak hanya soal teknik bermusik, tapi pemahaman makna sastra yang harus benar-benar dihayati,” ujar Baharuddin.
Empat sekolah yang dikonfirmasi hadir dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini adalah SMA Negeri 1 Pinrang, SMK Negeri 1 Pinrang, SMA Negeri 3 Parepare, dan SMA Negeri 5 Parepare. Perwakilan sekolah mengirimkan satu guru pendamping dan lima siswa sebagai peserta sesuai kuota yang ditetapkan dalam surat permintaan peserta.
Kepala SMK 1 Pinrang Ali Toge, menjelaskan
kami senang sekali menjadi tempat persiapan musikalisasi puisi. Tentu menjadk ajang belajar bersama dari sekolah-sekolah yang kami undang.
Sementara itu, Rudy selaku panitia pelaksana bahwa materi pembahasan disusun mengacu petunjuk teknis resmi Balai Bahasa.
“Kami bahas tuntas puisi Anak Laut karena ini karya wajib. Mulai dari makna setiap bait: jati diri anak laut, kearifan lokal, pandangan dunia, hingga karakter kekuatan dan kebebasan. Kami juga berikan panduan teknis musik: konsep bahari kontemporer, nada dasar hingga penggunaan instrumen dan efek suara alam,” jelasnya
Rudy menambahkan materi juga mencakup seluruh ketentuan lomba agar peserta paham aturan main. “Kami jelaskan ketentuan lengkap: tim beranggotakan 3–6 siswa, wajib bawakan puisi wajib dan pilihan, durasi maksimal 5 menit, puisi dinyanyikan utuh tak boleh diubah kata, pembuatan catatan konsep 50–100 kata, hingga teknis rekaman video untuk tahap provinsi. Semua kami bahas agar tidak ada kendala administrasi maupun teknis nanti,” ungkap Rudy.
Dalam penafsiran puisi Anak Laut, peserta dibimbing memahami bahwa karya ini adalah gambaran jati diri masyarakat bahari.
“Aku anak laut yang hidup di atas ombak, tidur di atas buih”
Diartikan sebagai kehidupan yang menyatu sepenuhnya dengan alam, tangguh dan sederhana. Bagian pertanyaan “Di manakah tanah kering? Di manakah jalan-jalan raya? Semua itu tak kukenal” dimaknai sebagai dunia dan cara pandang yang berbeda antara masyarakat laut dan darat. Penutup puisi “bebas seperti angin, kuat seperti karang, teguh seperti dasar, abadi seperti samudera” diartikan sebagai karakter utama yang harus ditonjolkan: kebebasan, kekuatan, keteguhan, dan keabadian nilai budaya.
Peserta diarahkan membawakannya dengan nuansa berubah-ubah: tegas dan bangga di awal, tenang dan misterius saat membahas rahasia alam, bertanya heran saat membahas dunia darat, megah saat menggambarkan luasnya laut, dan penuh kekuatan serta kebanggaan di akhir.
Baharuddin Iskandar berharap hasil pembahasan ini langsung diterapkan Beso harinya.
“Sekolah-sekolah diharapkan punya persiapan yang lebih baik, mampu mengemas karya dengan unik namun tetap patuh aturan, sehingga saat seleksi Cabang Dinas pada 10–15 Juni 2026 mendatang, kami mendapatkan perwakilan terbaik yang siap bersaing di tingkat provinsi mewakili wilayah VIII,” pungkasnya.
Kegiatan berlanjut hari kedua dengan praktik penyusunan karya musikalisasi berdasarkan panduan yang telah disepakati bersama. (Aldhyhumascabdinpendwilviii)

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda