JALAN PANJANG MENJADI GURU: CERMIN SYUKUR BAGI P3K

Oleh: Sitti Dahlia Azis
Di ruang digital hari ini, keluhan mudah ditemukan.
Tugas online dianggap berat.
Administrasi dirasa melelahkan.
Pelaporan berlapis disebut menekan.
Namun izinkan saya—seorang guru yang kini menanti purna bakti—mengajak sejenak menengok ke belakang, bukan untuk membandingkan secara angkuh, tetapi untuk belajar bersyukur.
Kami, generasi guru PNS tempo dulu, tidak langsung duduk manis di ruang kelas.
Kami melewati litsus, lalu prajabatan semi militer.
Di Rindam VII (Pakkatto), kami dilatih bukan hanya sebagai aparatur, tetapi sebagai pribadi yang tahan uji.
Kami menjalani:
longmars,
halang rintang,
tiarap di tanah,
dan hukuman angkat kasur keliling lapangan bila kedapatan istirahat sebelum waktunya.
Mandi dan makan?
Antri, berdesakan, tanpa keluhan.
Pelanggaran kecil sekalipun dibalas dengan jalan jongkok.
Kami diawasi oleh prajurit TNI berpangkat rendah,
sementara pelatih kami berpangkat Letnan.
Tidak ada ruang tawar-menawar.
Tidak ada dalih kelelahan.
Yang ada hanya satu pilihan: taat dan bertahan.
Semua itu kami jalani tanpa kamera, tanpa unggahan, tanpa tepuk tangan warganet.
Bandingkan dengan hari ini.
Tugas memang padat.
Administrasi memang banyak.
Namun sebagian besar dilakukan secara online,
tanpa harus berjemur berjam-jam,
tanpa merayap di tanah,
tanpa hukuman fisik yang menguras tenaga dan mental.
Opini ini bukan untuk meremehkan beban P3K.
Setiap zaman punya tantangannya sendiri.
Tetapi literasi bukan hanya tentang membaca teks,
melainkan membaca konteks dan sejarah.
Jika generasi hari ini hanya berhenti pada keluhan,
maka yang lahir bukan profesional tangguh,
melainkan aparatur yang rapuh oleh keadaan.
Menjadi guru—ASN maupun P3K—bukan sekadar soal status,
tetapi soal ketahanan batin dan komitmen pengabdian.
🪷
Maka, wahai junior-juniorku: bersyukurlah.
Kerjakan tugas dengan ikhlas.
Rawat integritas, meski tanpa sorotan.
Karena sejatinya,
guru tidak diuji saat segalanya mudah,
melainkan saat ia tetap setia
meski jalannya melelahkan.
Dan dari sanalah,
cahaya pendidikan tetap menyala—
meski hanya setitik.
Pinrang, 15 Februari 2026



