Profil Penulis & Penggerak Literasi Daerah

Sitti Dahlia Azis adalah seorang penulis dan penggerak literasi daerah yang aktif mendedikasikan dirinya pada pengembangan budaya baca-tulis, khususnya di Sulawesi Selatan. Ia memilih menyebut dirinya sebagai penggerak literasi karena aktivitas utamanya tidak berhenti pada proses menulis, melainkan pada upaya mengalirkan ilmu, pengalaman, dan semangat literasi kepada masyarakat luas, terutama penulis pemula.
Melalui Komunitas Literasi Sulawesi Selatan (KLSS), ia berperan dalam merekrut, membina, dan menggerakkan penulis-penulis awal agar berani tumbuh dan berkarya. Dalam pengelolaan komunitas, ia menerapkan kepemimpinan kolaboratif dengan melibatkan penulis profesional sebagai penanggung jawab kegiatan sesuai genre keahlian masing-masing, serta menempatkan dewan pembina dan dewan kehormatan sebagai figur rujukan dan penjaga nilai komunitas.
Walaupun telah berkontribusi dalam berbagai karya puisi dan pantun tingkat ASEAN, Sitti Dahlia Azis tidak mengklaim diri sebagai penyair profesional. Baginya, literasi adalah kerja pengabdian—sebuah tugas sosial dan kultural yang harus dijalankan dengan rendah hati, konsistensi, dan kebermanfaatan.
Beberapa peran dan amanah yang pernah dan sedang diemban antara lain:
Penulis
Guru Motivator Literasi (2023)
Agen Literasi Nasional
Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025
Seluruh peran tersebut ia maknai sebagai bentuk bakti dan tanggung jawab moral untuk terus menghidupkan literasi, selama masih diberi kesehatan dan kesempatan.
Smantiga Pinrang
Komunitas Literasi Sulawesi Selatan
Pada kesempatan lain dalam bincang santai, Dahlia mengungkapkan:
“Dengan senang hati, sahabatku.
Nama saya Sitti Dahlia Azis. Saya menulis bukan semata karena ingin disebut penulis, melainkan karena saya percaya bahwa ilmu yang singgah dalam diri seseorang memiliki kewajiban moral untuk dibagikan. Dari situlah perjalanan saya sebagai penulis dan penggerak literasi bermula—sebuah perjalanan yang lebih banyak berisi pengabdian daripada pencapaian.
Saya tidak memilih menyebut diri sebagai penyair, meskipun pernah terlibat dalam penulisan puisi dan pantun di tingkat ASEAN. Bagi saya, penyair adalah jenjang profesional yang menuntut pengakuan estetik tertentu. Saya lebih nyaman berdiri sebagai penulis—dan lebih tepat lagi sebagai penggerak literasi, karena aktivitas keseharian saya adalah menuliskan gagasan, lalu menghempaskannya kembali ke ruang-ruang masyarakat agar tumbuh dan hidup di orang lain.
Melalui Komunitas Literasi Sulawesi Selatan (KLSS), saya berupaya mengumpulkan dan merekrut penulis pemula, mendampingi mereka agar berani memulai, konsisten belajar, dan percaya pada proses. Di dalam komunitas ini, saya belajar bahwa literasi bukan kerja seorang diri. Penulis-penulis yang telah mapan saya tempatkan sebagai penanggung jawab kegiatan sesuai genre yang mereka kuasai, sementara para pendiri dan dewan kehormatan saya anggap sebagai figur terhormat—bahkan memiliki posisi yang lebih tinggi dari saya sebagai penggerak. Bagi saya, kepemimpinan adalah tentang memberi ruang, bukan meninggikan diri.
Beberapa amanah yang pernah dan sedang saya emban—seperti Guru Motivator Literasi (2023), Agen Literasi Nasional, dan Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025—tidak saya pandang sebagai gelar, melainkan sebagai tugas. Saya menganggap semua itu sebagai tagihan bakti yang harus ditunaikan sebelum kelak saya benar-benar menjalani pengabdian dalam ritme yang lebih sunyi.
Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, literasi akan tetap menjadi aktivitas harian saya. Menulis, berbagi, menggerakkan, dan membersamai—itulah cara saya mensyukuri hidup.
Pinrang, 28 Januari 2026



