Opini

Bukan Karena Tak Pintar, Ia Pergi Karena Kita Tak Peduli

Oleh: Muhammad Hayat NT (Kasi PSMK & PKPLK Cabdisdik Wilayah VIII Provinsi Sulawesi Selatan)

Dunia pendidikan kita hari ini sedang berduka hebat. Bukan karena jatuhnya nilai prestasi, melainkan karena jatuhnya sekat kemanusiaan di ruang kelas kita. Kisah ananda Yohanes Bastian Rihi adalah sebuah tragedi yang seharusnya tidak pernah tertulis dalam sejarah pendidikan bangsa. Seorang anak, di usia emasnya, memilih pergi selamanya hanya karena sebatang pena dan beberapa lembar buku yang tak mampu terbeli.

Bagi sebagian orang, pena dan buku mungkin hanyalah benda kecil. Namun bagi Yohanes, benda itu adalah harga diri, masa depan, sekaligus beban yang meremukkan pundak kecilnya hingga ia merasa tak lagi punya jalan keluar.

Kejadian ini adalah alarm keras bagi kita semua, kepala sekolah, guru, wali kelas, hingga seluruh siswa. Sekolah tidak boleh lagi hanya menjadi tempat transfer ilmu. Sekolah harus kembali menjadi rumah kedua yang hangat, tempat di mana rasa aman dan kasih sayang tumbuh subur.

Bagaimana mungkin di tengah riuhnya tawa di kantin dan keramaian ruang kelas, ada satu jiwa yang merintih dalam sepi karena kemiskinan? Di sinilah peran krusial kita semua:

Bagi guru dan wali kelas, tataplah mata murid anda satu per satu, jangan hanya tanyakan tugasnya, tanyakanlah kabarnya. Adakah beban di pundaknya yang tak sanggup ia ceritakan? Jadilah pendengar sebelum menjadi pengajar.

Bagi murid dan teman sekelas, inilah saatnya menanamkan empati. Lihatlah teman di sebelahmu. Jika ia mulai murung, jika bukunya kosong, atau jika ia tak lagi bersemangat, jangan biarkan ia sendiri. Sebuah pelukan, sapaan, atau berbagi sebatang pensil bisa jadi adalah penyelamat nyawa bagi mereka.

Kita butuh gerakan “Satu Rasa, Satu Peduli” di setiap sekolah. Mari kita ciptakan sistem di mana guru dan siswa secara aktif memantau kondisi sosial teman sejawatnya. Jangan biarkan ada murid yang merasa “terasing” hanya karena kondisi ekonomi.

Kita tidak bisa memutar waktu untuk menyelamatkan Yohanes. Namun, kita bisa memastikan bahwa tidak akan ada lagi “Yohanes-Yohanes” lain di masa depan. Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat di mana bantuan diberikan tanpa diminta, dan solusi ditemukan sebelum keputusasaan melanda.

Setetes air mata Yohanes adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita tebus dengan komitmen untuk lebih peduli, lebih empati, dan lebih peka terhadap sesama. Karena sejatinya, pelajaran tertinggi di sekolah bukanlah matematika atau sains, melainkan Kemanusiaan.

“Jangan biarkan ada pena yang patah karena kemiskinan, dan jangan biarkan ada mimpi yang padam karena ketidakpedulian kita.”**

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda