Daerah

Lihat Proses Bukan Kejadian Sesaat

Dra. Sitti Dahlia Azis (Guru Pendidikan Pancasila SMAN 3 Pinrang)

Dalam setiap peristiwa yang muncul di ruang publik, terlebih yang melibatkan dunia pendidikan, kita sering dihadapkan pada potongan-potongan informasi yang tampak jelas di permukaan, namun belum tentu utuh dalam makna dan prosesnya. Di titik inilah kehati-hatian menjadi penting, agar kita tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan dari satu sudut pandang saja.
Sebuah kejadian di lingkungan sekolah, misalnya, tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dari proses panjang: bagaimana komunikasi antara guru dan siswa dibangun, bagaimana budaya kelas terbentuk, serta bagaimana keseharian interaksi itu berlangsung dari waktu ke waktu. Apa yang terekam dalam satu momen—baik melalui video atau potongan peristiwa—sering kali hanyalah fragmen kecil dari dinamika yang lebih luas.
Dalam konteks ini, etika komunikasi antara pendidik dan peserta didik menjadi salah satu aspek penting yang perlu dilihat secara menyeluruh. Bukan hanya pada apa yang tampak di satu peristiwa, tetapi juga pada pola interaksi yang berulang: apakah masih berada dalam koridor profesional, atau sudah bergeser menjadi wilayah yang kabur batasnya. Demikian pula dengan perilaku siswa, yang tidak dapat dilepaskan dari ekosistem kelas dan budaya pergaulan yang terbentuk di dalamnya.
Tidak kalah penting adalah pertanyaan tentang sejauh mana pembinaan karakter dijalankan secara kolaboratif di lingkungan sekolah. Peran guru mata pelajaran, guru Bimbingan Konseling, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan semestinya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung dalam memahami dan membimbing perkembangan peserta didik secara utuh.
Di tengah derasnya arus media sosial, batas antara ruang edukasi dan ruang ekspresi informal juga semakin mudah kabur. Karena itu, diperlukan kesadaran bersama tentang bagaimana interaksi di lingkungan pendidikan direkam, ditampilkan, dan dimaknai. Tidak semua yang viral mencerminkan keseluruhan kebenaran, sebagaimana tidak semua yang terlihat sederhana benar-benar sederhana dalam prosesnya.
Pada akhirnya, sikap yang paling bijak adalah menahan diri dari penilaian yang terburu-buru. Mengedepankan klarifikasi, memahami konteks, dan melihat proses secara utuh adalah bagian dari etika berpikir yang sehat. Dunia pendidikan membutuhkan ruang yang tidak hanya kritis, tetapi juga adil—agar setiap peristiwa dipahami dengan kepala dingin dan hati yang jernih, bukan semata dari satu potongan yang terlihat di permukaan.***

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda