Juara Guru Inovatif Nasional dari Pinrang, Bagikan Ilmu Berharga dari Jepang

PINRANG – Nama Riaesty Dian Pertiwi Hashary, S.Pd., Gr., atau akrab disapa Bu Riesty, bukan lagi nama asing di dunia pendidikan Sulawesi Selatan. Sebagai Juara Guru Inovatif Provinsi Sulawesi Selatan, ia pernah menjadi duta daerah di kancah nasional, hingga akhirnya terpilih menjadi salah satu dari hanya 12 guru terbaik se-Indonesia yang diberi kepercayaan menimba ilmu dan pengalaman pendidikan langsung di ruang-ruang kelas Negeri Sakura, Jepang.
Prestasi gemilang dan pengalaman internasional itulah yang kemudian dibagikan secara langsung oleh guru SMAN 1 Pinrang ini kepada guru guru terpilih dari SMA dan SMK se-Kabupaten Pinrang dan Kota Parepare. Kegiatan berbagi ilmu ini digelar dalam agenda Penguatan Literasi Kebahasaan sekaligus Persiapan Giat Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Tahun 2026 di Ruang Pertemuan SMA 1 Pinrang, (18/5/2026).
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII, Baharuddin Iskandar, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran Bu Riesty di kegiatan tidak boleh dilewatkan oleh panitia dan guru.
“Bu Riesty ini adalah bukti keunggulan pendidikan kita. Beliau juara Guru Inovatif Sulsel, menjadi duta kita di tingkat nasional, lalu melalui seleksi sangat ketat, beliau terpilih masuk dalam 12 guru se-Indonesia yang berhak belajar langsung ke Jepang. Kami tentu saja tidak mau melewatkan kesempatan emas ini, dan langsung memberi ruang bagi beliau untuk berbagi, baik lewat buku yang disusunnya maupun pengalaman langsung secara lisan, kepada teman-teman guru di sini,” tegas Baharuddin dengan bangga.
Dalam pemaparannya, Bu Riesty mengungkapkan bahwa perjalanan panjangnya ke Jepang bukan sekadar kunjungan studi, melainkan proses mendalami sistem pendidikan yang sangat menjunjung tinggi pembentukan karakter. Ia menekankan, bahwa karakter yang kuat adalah pondasi utama yang wajib ditanamkan kepada setiap anak didik di satuan pendidikan, dan salah satu yang paling mendasar adalah disiplin waktu.
“Hal paling mengesankan dan harus kita jadikan teladan adalah bagaimana karakter dibangun sedemikian rupa hingga menjadi kebiasaan hidup. Karakter adalah hal utama yang wajib ditanamkan di setiap satuan pendidikan, termasuk di dalamnya disiplin waktu. Di Jepang, ketepatan waktu bukan sekadar aturan, melainkan bentuk penghargaan terhadap orang lain dan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Hal inilah yang membuat sistem pendidikan dan kehidupan sosial mereka berjalan sangat tertib, efektif, dan maju,” ungkap Bu Riesty saat memaparkan isi bukunya Jejak Sakura di Ruang Kelas dan pengalaman langsungnya.
Menurutnya, disiplin waktu adalah cerminan dari kualitas pribadi. Jika hal ini ditanamkan sejak dini dan dibiasakan di sekolah, maka kemampuan lain seperti penguasaan materi, literasi, dan prestasi akademik akan mengikuti dengan sendirinya. Ia menambahkan, pendidikan karakter di sana tidak diajarkan lewat teori saja, tetapi dijalani dalam setiap aktivitas, mulai dari masuk kelas, kegiatan belajar, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekolah secara mandiri.
Kegiatan ini sekaligus dirangkai dengan pembahasan teknis persiapan pelaksanaan UKBI tahun 2026.
Ketua Panitia Pelaksana, Aldy menyampaikan bahwa materi yang dibagikan Bu Riesty sangat relevan dan menjadi bekal kuat bagi para guru dalam membimbing siswa.
“Ilmu yang dibawa Bu Riesty adalah ilmu kelas dunia. Beliau sudah membuktikan kualitasnya dari tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Penekanan beliau soal karakter dan disiplin waktu ini menjadi dasar penting bagi,” ujar Aldy.
Para peserta yang hadir terlihat sangat antusias, mencatat setiap poin penting, dan aktif berdiskusi mengenai cara mengadopsi nilai-nilai positif pendidikan Jepang ke dalam pembelajaran di sekolah masing-masing, terutama dalam hal pembiasaan karakter dan kedisiplinan.
Kepala Cabang Dinas, Baharuddin Iskandar, berharap momen ini menjadi titik balik peningkatan kualitas pendidikan di wilayah binaannya. “Kalau guru dari Pinrang bisa bersaing dan masuk 12 besar se-Indonesia, berarti kita punya potensi luar biasa. Sekarang tugas kita adalah menularkan ilmu itu, agar semakin banyak guru dan siswa di sini yang berprestasi, literasinya kuat, kemampuan berbahasanya terasah, dan yang paling utama: memiliki karakter serta disiplin yang tinggi,” pungkasnya.
Di akhir kegiatan, Bu Riesty menyerahkan secara simbolis buku Jejak Sakura di Ruang Kelas kepada Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII, sebagai wujud komitmen berbagi ilmu dan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan di daerahnya. (Aldhyhumascabdinpendwilviii)



