Pentingnya Public Speaking dalam Dunia Pendidikan

(Dra. Sitti Dahlia Azis, Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025)
Public speaking dalam dunia pendidikan bukan sekadar keterampilan berbicara di depan orang banyak, tetapi merupakan bagian penting dari peran seorang pendidik dalam membentuk arah berpikir, sikap, dan motivasi peserta didik maupun lingkungan sekolah secara lebih luas.
Dalam praktiknya, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi di dalam kelas. Ada situasi di mana guru harus tampil sebagai pembina upacara, narasumber, pemimpin rapat, atau penggerak dalam forum-forum pendidikan. Semua peran tersebut menuntut kemampuan berbicara di ruang publik dengan baik, jelas, dan bermakna.
Seorang pembina upacara, misalnya, tidak hanya berdiri dan membaca teks. Ia dituntut mampu menyampaikan pesan dengan intonasi yang tepat, artikulasi yang jelas, serta penghayatan yang mampu menyentuh peserta didik. Di sini, public speaking menjadi sarana untuk menyampaikan nilai, bukan sekadar informasi.

Demikian pula seorang narasumber dalam seminar atau webinar. Ia tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu mengelola komunikasi secara spontan, terutama ketika menghadapi pertanyaan yang tidak terduga dari peserta. Kemampuan menjawab dengan tenang, terarah, dan relevan menunjukkan kedewasaan berpikir sekaligus pengalaman dalam ruang publik.
Dari dua contoh tersebut terlihat bahwa public speaking dalam dunia pendidikan selalu berkaitan dengan tanggung jawab moral dan intelektual. Guru tidak hanya berbicara untuk didengar, tetapi juga untuk memberi pengaruh dan membangun pemahaman.
Namun, kemampuan ini tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan proses pembiasaan, pelatihan, kaderisasi, serta sikap terbuka untuk terus belajar. Tanpa itu, rasa takut, demam panggung, atau ketergantungan pada teks akan menjadi hambatan dalam pengembangan diri.
Lebih jauh lagi, penguatan public speaking juga dapat dikembangkan melalui pemberdayaan ekstrakurikuler, salah satunya ekskul jurnalistik. Dalam kegiatan ini, peserta didik tidak hanya belajar menulis berita, tetapi juga dapat dilatih keterampilan berbicara melalui teknik wawancara, peliputan, dan diskusi. Aktivitas tersebut secara langsung melatih keberanian bertanya, kemampuan menyimak, serta menyampaikan pertanyaan secara runtut dan komunikatif.
Jika kegiatan jurnalistik ini dipadukan dengan kearifan lokal, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna. Peserta didik tidak hanya belajar teknik komunikasi modern, tetapi juga belajar menggali nilai-nilai budaya, tradisi, dan tokoh masyarakat di lingkungan sekitar. Wawancara dengan tokoh lokal, peliputan kegiatan adat, atau penulisan kisah-kisah daerah dapat menjadi sarana melatih public speaking sekaligus menumbuhkan rasa identitas dan kebanggaan terhadap daerahnya.
Dengan demikian, public speaking dalam dunia pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang kelas atau forum formal, tetapi juga dapat hidup melalui kegiatan ekstrakurikuler yang kontekstual dan berbasis budaya.
Pada akhirnya, public speaking adalah jembatan antara ilmu dan manusia. Ia menghubungkan pengetahuan dengan pemahaman, serta mengubah informasi menjadi inspirasi yang hidup dalam tindakan dan karakter peserta didik.@SDA



