Opini

PMP: RINDU KITA SEMUA?

Oleh; Dra. Sitti Dahlia Azis

(Guru Inspiratif Literasi 2023, Guru Kebangsaan Pusat Penguatan Karakter Kemendikbudristek RI 2024, Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025.

Pada era 1980–1990-an, kita mengenal mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Seiring perkembangan zaman, namanya berubah menjadi PPKn, kemudian PKn, dan kini menjadi Pendidikan Pancasila.
Saya termasuk guru yang mengalami seluruh proses perubahan tersebut. Dari setiap perubahan nama tentu ada penyesuaian muatan dan pendekatan pembelajaran. Namun, bagi saya, apa pun namanya, esensi mata pelajaran ini tetap sama, yaitu membentuk karakter peserta didik melalui pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila.
Perubahan nama saja tidak akan membawa makna apabila guru tidak dibekali kompetensi, integritas, dan keteladanan. Kejujuran, amanah, cinta tanah air, kebijaksanaan, serta sikap beradab harus menjadi bagian dari kehidupan seorang pendidik. Jika tidak, perubahan hanya akan menjadi konsep yang tertulis di atas kertas.
Yang kita harapkan sesungguhnya adalah perubahan menuju kemajuan, yakni lahirnya generasi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia. Karena itu, guru perlu mendapatkan bimbingan yang memadai agar mampu menjadi teladan dan mengimbaskan nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik melalui sikap, perkataan, dan tindakan.
Saatnya kita kembali menyimak perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia. Bukan sekadar mengenang perubahan nama mata pelajaran, tetapi menyadari bahwa yang paling penting adalah pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bangsa, kita memiliki empat pilar kebangsaan yang harus terus dijaga dan diamalkan, yaitu:
1. Pancasila.
2. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Bhinneka Tunggal Ika.
4. Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Karena itu, perubahan nama hendaknya diiringi dengan peningkatan kualitas guru, pembelajaran, dan keteladanan. Guru perlu dibekali kompetensi, integritas, serta sikap yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, sehingga pendidikan karakter tidak berhenti pada konsep, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari.
Pada akhirnya, yang kita harapkan bukan sekadar perubahan nama mata pelajaran, melainkan lahirnya warga negara yang berkarakter, berakhlak mulia, mencintai tanah air, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pinrang, 24 Juli 2026

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda