Kemah Sastra dan Seni II MGMP Bahasa Indonesia SMA se-Kabupaten Gowa, Merawat Literasi dan Menumbuhkan Karakter

GOWA — Langit malam menjadi saksi pertemuan para pencinta sastra dan seni dalam kegiatan Kemah Sastra dan Seni II Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMA se-Kabupaten Gowa. Di halaman SMAN 9 Gowa, Jumat malam, 16 Oktober 2026, semangat literasi menyatu dengan keakraban, kreativitas, dan tekad untuk membangun karakter generasi muda melalui bahasa dan karya sastra.
Mengusung tema “Di Bawah Langit yang Sama”, kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bahasa 2026 ini secara resmi dibuka oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Gowa, Firdaus. Sebanyak 22 sekolah mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti kegiatan yang direncanakan berlangsung selama tiga hari, hingga Ahad.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri Kepala SMAN 9 Gowa, H. Tajuddin, S.Pd., M.Si.; Ketua Komite Sekolah, Dra. Hj. Fatmawati, M.Si.; Plt. Kepala SMAN 2 Gowa, Arifuddin, S.Pd., M.M.; Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Gowa, Arifuddin, S.Pd., M.Pd.; serta mantan Ketua MGMP Bahasa Indonesia, Al Yapid. Kehadiran para pemangku kepentingan pendidikan tersebut menjadi penanda dukungan terhadap upaya pengembangan sastra, seni, dan literasi di lingkungan sekolah.
Merayakan Bulan Bahasa dengan Kreativitas
Ketua Panitia, Gadis Pertiwi Indah, menjelaskan bahwa Kemah Sastra dan Seni II diselenggarakan untuk memperingati Bulan Bahasa 2026 sekaligus memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakat di bidang sastra dan seni.
Kegiatan ini terlaksana melalui kerja sama MGMP Bahasa Indonesia dengan Komunitas Sastra (Kontras) SMAN 9 Gowa, serta melibatkan komunitas seni Gradasi SMAN 9 Gowa.
Menurut Gadis, kemah sastra bukan sekadar kegiatan berkumpul di alam terbuka. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan, memperkaya wawasan, dan menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap bahasa, sastra, dan seni.
Melalui berbagai aktivitas selama perkemahan, peserta didik diharapkan memperoleh pengalaman yang membekas, baik dalam mengembangkan kreativitas maupun membangun kebersamaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Semangat tersebut sejalan dengan hakikat sastra yang tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga mengasah kepekaan rasa, memperluas cara pandang, serta membantu manusia memahami kehidupan dan sesamanya.

MGMP Bahasa Indonesia, Bergerak melalui Kolaborasi
Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Gowa, Arifuddin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta didik dan guru pendamping dari sekolah-sekolah yang berpartisipasi.
Ia menegaskan bahwa Kemah Sastra dan Seni II merupakan bagian dari program MGMP Bahasa Indonesia dalam menyemarakkan Bulan Bahasa 2026. Pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi dengan Kontras dan Gradasi SMAN 9 Gowa.
Arifuddin berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan peserta didik yang tidak hanya memiliki kemampuan berbahasa yang baik, tetapi juga berkarakter, kreatif, serta mempunyai jiwa sastra dan seni yang kuat.
Baginya, pengembangan sastra di sekolah merupakan salah satu jalan untuk memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Melalui sastra, mereka belajar menyampaikan gagasan, mengolah perasaan, menghargai perbedaan, dan mengekspresikan pandangan secara bertanggung jawab.
Apresiasi juga datang dari Ketua Komite Sekolah, Fatmawati Sommeng. Ia menyambut hangat kehadiran para peserta dari 22 sekolah se-Kabupaten Gowa dan menyampaikan rasa bangganya terhadap semangat para pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Gowa atas dukungan terhadap kegiatan pendidikan yang memberi ruang bagi pengembangan potensi peserta didik.
Sambutan hangat itu menambah suasana kekeluargaan pada malam pembukaan. Para peserta tidak hanya hadir sebagai perwakilan sekolah masing-masing, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar pembelajar bahasa, sastra, dan seni.
Kepemimpinan dan Inovasi Menjadi Kunci
Kepala SMAN 9 Gowa, H. Tajuddin, memberikan apresiasi terhadap kiprah MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Gowa yang dinilainya aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan pengembangan profesi dan pembelajaran.
Menurutnya, keaktifan sebuah organisasi sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan yang memiliki perhatian, wawasan, dan kemauan untuk bergerak maju.
Ia menilai, organisasi yang dipimpin oleh sosok yang berkomitmen dan mampu melihat peluang akan lebih mudah berkembang serta menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi anggotanya maupun masyarakat pendidikan.
Pandangan tersebut menjadi refleksi bahwa keberhasilan sebuah komunitas profesi tidak cukup hanya ditopang oleh struktur organisasi. Diperlukan pula gagasan, kreativitas, kerja sama, dan kesediaan untuk terus menghadirkan pembaruan.
Kemah Sastra dan Seni II menjadi salah satu contoh bagaimana komunitas guru dapat memperluas perannya. MGMP tidak hanya menjadi ruang pertemuan untuk membahas pembelajaran, tetapi juga menjadi penggerak kegiatan literasi yang melibatkan peserta didik secara langsung.
Firdaus: Guru Harus Terus Memperbarui Kemampuan
Dalam sambutannya saat membuka kegiatan, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Gowa, Firdaus, memberikan apresiasi kepada pengurus MGMP Bahasa Indonesia atas konsistensi dan kreativitas dalam menyelenggarakan kegiatan.
Ia menyebut kegiatan kemah sebagai bagian dari rangkaian program MGMP Bahasa Indonesia yang telah beberapa kali dilaksanakan. Adapun Kemah Sastra di SMAN 9 Gowa kali ini merupakan penyelenggaraan kedua di sekolah tersebut.
Menurut Firdaus, keaktifan MGMP Bahasa Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya jumlah guru dalam bidang studi tersebut. Faktor yang lebih penting adalah adanya orang-orang yang memiliki inovasi, kreativitas, dan kemauan untuk terus bergerak.
Atas nama Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Gowa, ia menyampaikan apresiasi terhadap berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan MGMP Bahasa Indonesia.
Ia berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas sumber daya guru Bahasa Indonesia.
Firdaus juga mengingatkan bahwa perkembangan zaman menuntut guru untuk terus memperbarui pengetahuan dan kompetensinya. Di tengah kemudahan akses terhadap teknologi, informasi, dan berbagai sumber pengetahuan, guru perlu terus belajar agar mampu mendampingi peserta didik secara relevan dan efektif.
“Kalau kita tidak meng-upgrade kemampuan kita, kita akan tertinggal,” demikian pesan yang ditekankannya dalam sambutan tersebut.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa guru tidak boleh berhenti belajar. Perubahan teknologi dan pola belajar generasi muda menuntut pendidik untuk terus beradaptasi, mengembangkan strategi pembelajaran, dan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna.
Literasi Menjadi Pekerjaan Rumah Bersama
Di balik apresiasi terhadap kegiatan MGMP Bahasa Indonesia, Firdaus juga menyampaikan catatan penting mengenai tantangan pendidikan, khususnya kemampuan literasi peserta didik.
Ia menyinggung hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun sebelumnya yang, menurut paparannya, menunjukkan bahwa capaian peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris masih memerlukan perhatian serius. Ia juga menyoroti posisi kemampuan literasi peserta didik yang disebut berada pada urutan ke-22 secara nasional.
Catatan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, terutama guru Bahasa Indonesia yang memiliki peran strategis dalam membangun kemampuan memahami bacaan, menafsirkan informasi, menyusun argumen, dan mengomunikasikan gagasan.
Kemampuan literasi tidak cukup dibangun melalui kegiatan membaca teks di dalam kelas. Peserta didik perlu dibiasakan berinteraksi dengan beragam bacaan, berdiskusi, menulis, mengapresiasi karya, serta menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks itulah, kegiatan kemah sastra memiliki arti penting. Sastra dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kebiasaan membaca, keberanian berekspresi, daya kritis, dan kemampuan mengolah informasi.
Puisi, cerpen, pertunjukan seni, diskusi, serta berbagai bentuk ekspresi kreatif dapat menjadi pengalaman belajar yang mendekatkan peserta didik dengan bahasa. Mereka tidak hanya mempelajari kaidah, tetapi juga merasakan bahwa bahasa merupakan sarana untuk memahami dunia dan menyampaikan gagasan.
Meski demikian, kegiatan semacam ini perlu berjalan beriringan dengan pembiasaan literasi yang terencana dan berkelanjutan di sekolah, sehingga dampaknya tidak berhenti ketika perkemahan usai.
Menyalakan Api Kreativitas, Menjaga Nyala Literasi
Kemah Sastra dan Seni II MGMP Bahasa Indonesia SMA se-Kabupaten Gowa menghadirkan pesan bahwa pendidikan bahasa tidak semata-mata berurusan dengan tata bahasa, struktur kalimat, atau tuntutan akademik. Di dalamnya terdapat ruang luas untuk membangun karakter, merawat kebudayaan, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan kepekaan sosial.
Pertemuan peserta dari 22 sekolah menjadi kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan membangun persaudaraan melalui kegiatan sastra dan seni. Di bawah langit yang sama, para pelajar belajar bahwa perbedaan sekolah dan latar belakang bukanlah penghalang untuk berkarya bersama.
Bagi para guru, kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa peningkatan mutu pendidikan memerlukan kolaborasi. Guru yang terus belajar, organisasi profesi yang aktif, sekolah yang mendukung, serta peserta didik yang diberi ruang untuk berekspresi merupakan unsur penting dalam membangun budaya literasi.
Pada akhirnya, keberhasilan kemah sastra tidak hanya diukur dari meriahnya pembukaan atau beragamnya kegiatan selama tiga hari. Ukuran yang lebih bermakna adalah tumbuhnya kebiasaan membaca, keberanian menulis, kecintaan terhadap bahasa Indonesia, dan karakter peserta didik yang semakin matang.
Dari SMAN 9 Gowa, semangat itu diharapkan terus menyala. Sebab, ketika kata-kata dirangkai dengan pikiran yang jernih dan hati yang peka, sastra bukan sekadar karya, melainkan jalan untuk membangun manusia yang lebih berbudaya. (Syamsud)



