Hendriati Sabir Dorong Guru Perempuan Sulsel Jadi Pemimpin Pendidikan

Makassar. Pengurus Perempuan PGRI Sulawesi Selatan menggelar rapat konsolidasi organisasi bersama pengurus dari kabupaten dan kota se-Sulsel.
Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Dalton Makassar, Kamis (22/10/2026), dirangkaikan dengan Konferensi Kerja Provinsi (Konkerprov) II PGRI Sulawesi Selatan Tahun 2026.
Ketua Perempuan PGRI Sulsel, Dra. Hj. Hendriati Sabir, M.Pd., menegaskan pentingnya meningkatkan peran perempuan dalam organisasi profesi guru.
Menurut Hendriati, perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak organisasi sekaligus berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan.
“Perempuan PGRI tidak boleh hanya menjadi pelengkap dalam struktur organisasi. Kita harus hadir sebagai kekuatan yang mampu melahirkan gagasan, inovasi, dan program nyata untuk kemajuan pendidikan serta peningkatan kualitas guru,” ujar Hendriati.
Ia mengatakan, konsolidasi tersebut menjadi momentum memperkuat komunikasi dan koordinasi antara pengurus Perempuan PGRI tingkat provinsi dengan pengurus kabupaten dan kota.
Hendriati berharap seluruh pengurus yang hadir dapat menindaklanjuti hasil pertemuan melalui program kerja di daerah masing-masing.
“Kami ingin seluruh pengurus Perempuan PGRI di 24 kabupaten dan kota semakin aktif membangun organisasi. Setelah pertemuan ini, harus ada program nyata yang dilaksanakan di daerah masing-masing,” katanya.
Dorong Perempuan Jadi Pemimpin Pendidikan
Hendriati menjelaskan, perempuan memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, baik sebagai guru, kepala sekolah, pengawas, maupun pemimpin lembaga pendidikan.
Karena itu, Perempuan PGRI perlu memberikan perhatian terhadap peningkatan kapasitas dan kepemimpinan perempuan.
Menurutnya, guru perempuan harus memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kompetensi profesional, meningkatkan kemampuan manajerial, dan mengambil peran dalam pengambilan keputusan organisasi.
“Perempuan guru memiliki kemampuan dan pengalaman yang sangat besar. Kita ingin semakin banyak perempuan tampil sebagai pemimpin pendidikan yang profesional, berintegritas, dan mampu memberikan inspirasi kepada generasi muda,” jelasnya.
Selain penguatan kepemimpinan, Hendriati juga mendorong guru perempuan agar terus meningkatkan kemampuan dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.
Ia menilai penguasaan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin dibutuhkan dalam mendukung proses pembelajaran.
Salah satu program yang dapat dimanfaatkan adalah PGRI Power, Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan AI.
“Guru perempuan juga harus berada di garis depan dalam penguasaan teknologi. Jangan sampai perkembangan digital justru membuat kita tertinggal. Teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” ujarnya.
Perkuat Solidaritas dan Perlindungan Guru
Hendriati juga menyoroti pentingnya solidaritas antarguru perempuan dalam menghadapi berbagai persoalan pendidikan.
Menurutnya, organisasi Perempuan PGRI harus menjadi wadah yang mampu memberikan perhatian dan dukungan kepada anggota, terutama ketika menghadapi persoalan dalam lingkungan kerja.
“Kita ingin Perempuan PGRI menjadi rumah bersama bagi para guru perempuan. Ketika ada anggota menghadapi persoalan, organisasi harus hadir memberikan perhatian, dukungan, dan membantu mencari jalan keluar sesuai kewenangan organisasi,” katanya.
Ia berharap pengurus Perempuan PGRI di kabupaten dan kota terus membangun komunikasi dengan anggota hingga tingkat cabang.
Komunikasi tersebut dinilai penting agar berbagai persoalan yang dihadapi guru dapat diketahui dan ditindaklanjuti melalui mekanisme organisasi.
Selain itu, pengurus diharapkan memperkuat kerja sama dalam memperjuangkan profesionalisme, kesejahteraan, dan perlindungan guru.
Minta Pengurus Susun Program Nyata
Hendriati menegaskan, rapat konsolidasi Perempuan PGRI Sulsel tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Ia meminta seluruh pengurus kabupaten dan kota menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan guru di wilayah masing-masing.
Program tersebut dapat berupa pelatihan kepemimpinan perempuan, peningkatan kompetensi digital, penguatan literasi, kegiatan sosial, hingga pendampingan anggota.
“Harapan saya, setelah kembali ke daerah masing-masing, seluruh pengurus Perempuan PGRI segera melakukan konsolidasi hingga ke tingkat cabang. Kita harus bergerak bersama, saling menguatkan, dan menunjukkan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam membangun pendidikan,” tegasnya.
Hendriati optimistis, kekompakan pengurus dari kabupaten dan kota dapat menjadikan Perempuan PGRI Sulsel semakin aktif dan memberikan manfaat bagi anggota.
Ia juga berharap perempuan semakin memperoleh ruang dalam kepemimpinan organisasi dan pengembangan pendidikan.
“Perempuan PGRI harus menjadi perempuan yang tangguh, cerdas, mandiri, dan berdaya. Kita ingin kehadiran Perempuan PGRI benar-benar dirasakan manfaatnya oleh guru dan masyarakat. Dari Sulawesi Selatan, kita terus bergerak mewujudkan guru bermutu dan Indonesia maju,” pungkas Hendriati.
Rapat konsolidasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Konkerprov II PGRI Sulsel yang dilaksanakan di Hotel Dalton Makassar pada 22–24 Oktober 2026.
Konferensi kerja ini mengusung tema “Memperkuat Silaturahmi dalam Mewujudkan Guru Bermutu Indonesia Maju” dan menjadi forum konsolidasi pengurus PGRI dari 24 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan.(*)



