Dr Ahdan Pimpin Penelitian Unggulan UMI, Soroti Kemiskinan dan Pemasaran Hasil Laut Nelayan Maros

Maros. Tim Penelitian Unggulan Fakultas, Internal Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar meneliti sistem pemasaran hasil laut nelayan di Desa Ampekale, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Penelitian tersebut menyoroti kondisi sosial ekonomi masyarakat nelayan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam pemasaran hasil tangkapan, tingkat pendidikan, serta kepemilikan alat tangkap.
Tim penelitian dipimpin Dr Ahdan, MSi, bersama anggota Dr Zelfia, M.Sos.I., dan empat mahasiswa yang dilibatkan dalam kegiatan penelitian lapangan.
Ketua Tim Peneliti, Dr Ahdan, MSi, kepada media pada akhir Oktober 2026 menjelaskan bahwa penelitian tersebut berupaya mengungkap kondisi kehidupan nelayan Desa Ampekale, khususnya sistem pemasaran hasil tangkapan yang masih bergantung pada pedagang pengumpul.
Menurut Ahdan, ketergantungan nelayan terhadap pengumpul menjadi salah satu persoalan penting yang perlu dikaji karena berkaitan dengan peluang nelayan memperoleh pendapatan dari hasil tangkapan mereka.
Penelitian ini juga memberikan perhatian terhadap kondisi ekonomi nelayan yang rentan menghadapi kemiskinan.
Nelayan Masih Bergantung pada Pedagang Pengumpul
Ahdan menjelaskan, sistem pemasaran hasil laut di Desa Ampekale umumnya masih bertumpu pada pembelian oleh pedagang pengumpul.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tim karena nelayan memiliki keterbatasan pilihan dalam memasarkan hasil tangkapannya.
Melalui penelitian ini, tim berupaya memahami bagaimana hubungan antara nelayan dan pengumpul berlangsung, sekaligus mengidentifikasi persoalan yang dihadapi masyarakat dalam kegiatan ekonomi sehari-hari.
Kajian tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pemasaran hasil laut dan peluang peningkatan pendapatan nelayan.
Anggota tim peneliti, Dr Zelfia, M.Sos.I., menjelaskan bahwa penelitian bertujuan mengungkap kondisi kehidupan masyarakat nelayan di Desa Ampekale secara lebih mendalam.
Penelitian juga diharapkan memberikan kontribusi bagi upaya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Mayoritas Nelayan Berpendidikan Sekolah Dasar
Dari wawancara yang dilakukan tim peneliti terhadap sejumlah nelayan, ditemukan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan hingga sekolah dasar.
Sementara itu, hanya sebagian kecil yang mengenyam pendidikan tingkat menengah.
Ahdan menjelaskan, keterbatasan pendidikan tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam memahami pilihan pekerjaan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat nelayan.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh tim, banyak warga menggantungkan kehidupan pada pekerjaan sebagai nelayan karena terbatasnya pilihan mata pencaharian lain.
Kondisi tersebut membuat kehidupan ekonomi keluarga sangat bergantung pada hasil tangkapan yang diperoleh setiap hari.
Selain persoalan pendidikan, tim juga menyoroti keterbatasan peralatan yang digunakan masyarakat dalam menangkap hasil laut dan sungai.
Peralatan Tangkap Terbatas, Persaingan Antar-Nelayan Tinggi
Hasil pengamatan dan wawancara tim menunjukkan bahwa peralatan tangkap nelayan Desa Ampekale masih relatif sederhana.
Peralatan yang umum digunakan berupa pukat atau jaring serta rangka atau perangkap kepiting.
Kesamaan jenis peralatan tangkap tersebut menyebabkan para nelayan memiliki pola penangkapan yang hampir serupa.
Mereka juga mencari nafkah pada kawasan sungai yang sama sehingga persaingan dalam memperoleh hasil tangkapan menjadi cukup tinggi.
Menurut Ahdan, kondisi tersebut merupakan bagian dari persoalan yang perlu dipahami dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Keterbatasan alat tangkap, pilihan pekerjaan, serta akses pemasaran menjadi sejumlah aspek yang dikaji dalam penelitian.
Tim berharap hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan langkah pemberdayaan ekonomi masyarakat nelayan, khususnya di Desa Ampekale.
Libatkan Empat Mahasiswa, Dua di Antaranya Asal Malaysia
Hal menarik dari kegiatan Penelitian Unggulan Fakultas Internal UMI ini adalah keterlibatan empat mahasiswa sebagai anggota tim penelitian.
Dua di antaranya merupakan mahasiswa asal Malaysia yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan UMI Makassar.
Ahdan mengatakan pelibatan mahasiswa dimaksudkan untuk memberikan pengalaman langsung dalam kegiatan penelitian bersama dosen.
Melalui kegiatan lapangan, mahasiswa memperoleh kesempatan berinteraksi dengan masyarakat, melakukan pengumpulan data, dan memahami persoalan sosial ekonomi yang dihadapi nelayan.
Keterlibatan mahasiswa internasional juga menjadi bagian dari pengalaman akademik dalam memahami kehidupan masyarakat pesisir di Sulawesi Selatan.
Kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan proses pembelajaran di perguruan tinggi dengan realitas kehidupan masyarakat.
Penelitian Diharapkan Berkontribusi bagi Kesejahteraan Nelayan
Ahdan berharap penelitian yang dilakukan tim UMI tidak hanya menghasilkan kajian akademik, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Menurutnya, pemahaman mengenai sistem pemasaran, kondisi pendidikan, dan keterbatasan alat tangkap penting untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi nelayan.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar untuk merumuskan rekomendasi pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kondisi sosial ekonomi Desa Ampekale.
Melalui Penelitian Unggulan Fakultas Internal ini, UMI Makassar berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam mengkaji persoalan masyarakat, khususnya kehidupan nelayan yang masih menghadapi keterbatasan ekonomi dan akses pemasaran hasil tangkapan.(*)



