Taufiq Ismail Diusulkan untuk Nobel Sastra, HISKI Sulsel Soroti Dedikasinya

Makassar. Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Andi Syukri Syamsuri, M.Hum., mengusulkan sastrawan nasional Taufiq Ismail sebagai calon penerima Hadiah Nobel Sastra atas dedikasinya selama puluhan tahun memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya sastra.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Andi Syukri kepada media di Makassar, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, Taufiq Ismail merupakan salah satu tokoh sastra Indonesia yang memiliki rekam jejak panjang dalam menghadirkan karya-karya yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga menjadi suara moral bagi bangsa.
“Taufiq Ismail adalah penyair besar Indonesia yang selama lebih dari enam dekade menggunakan sastra sebagai media memperjuangkan kemanusiaan, keadilan, dan kebenaran. Konsistensi beliau menjadikan karya-karyanya layak memperoleh apresiasi dunia, termasuk Nobel Sastra,” ujar Prof. Andi Syukri.
Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar itu mengatakan, puisi-puisi Taufiq Ismail tidak sekadar menawarkan keindahan bahasa, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam mengenai kehidupan, kebangsaan, nilai-nilai religius, serta kepedulian terhadap kaum yang lemah.
Menurutnya, kekuatan utama karya Taufiq Ismail terletak pada kemampuannya memadukan nilai kemanusiaan dengan spiritualitas sehingga tetap relevan dibaca lintas generasi.
“Beliau mampu menyampaikan kritik sosial, nilai kemanusiaan, dan pesan moral dengan bahasa yang sederhana tetapi sangat kuat. Itulah yang menjadikan karya-karyanya hidup dan terus menjadi rujukan dalam perkembangan sastra Indonesia,” katanya.
Guru Besar Bidang Bahasa dan Sastra itu menilai, kontribusi Taufiq Ismail tidak hanya terbatas pada penciptaan karya sastra, tetapi juga dalam membangun tradisi literasi dan kebudayaan nasional.
Ia menyebut, kiprah Taufiq Ismail sebagai penyair, budayawan, pendidik, dan intelektual telah memberikan inspirasi bagi banyak generasi penulis di Indonesia.
“Selama ini beliau telah mengangkat nama Indonesia melalui karya sastra yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dikenal di berbagai forum internasional. Dedikasi seperti ini patut memperoleh pengakuan dunia,” ujarnya.
Prof. Andi Syukri menambahkan, penghargaan Nobel Sastra tidak hanya diberikan berdasarkan kualitas artistik karya, tetapi juga mempertimbangkan kontribusi seorang sastrawan terhadap peradaban manusia.
Dalam konteks tersebut, menurutnya, Taufiq Ismail memenuhi karakter sebagai intelektual yang menjadikan sastra sebagai ruang perjuangan moral dan kemanusiaan.
“Sastra bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Sastra memiliki fungsi membangun kesadaran, menjaga nurani masyarakat, serta menghadirkan harapan ketika bangsa menghadapi berbagai persoalan. Nilai-nilai itu tercermin dalam karya-karya Taufiq Ismail,” katanya.
HISKI Sulawesi Selatan, lanjut Prof. Andi Syukri, berharap semakin banyak perhatian terhadap karya-karya sastrawan Indonesia di tingkat internasional agar kekayaan sastra nasional memperoleh pengakuan yang lebih luas.
Ia juga mengajak kalangan akademisi, budayawan, dan masyarakat untuk terus mengapresiasi karya sastra sebagai bagian penting dalam membangun karakter bangsa.
“Penghargaan kepada seorang sastrawan sejatinya bukan hanya penghargaan kepada individu, tetapi juga penghormatan terhadap kebudayaan dan peradaban bangsa. Karena itu kami memandang Taufiq Ismail layak diusulkan sebagai calon penerima Nobel Sastra,” pungkasnya.(yamus)



