Dosen UNM Gelar PKM Internasional di Malaysia, Perkuat Kohesi Sosial Diaspora Bugis

KUALA LUMPUR. Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Internasional 2026 dari Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan kegiatan PKM di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2–6 Juni 2026.
Program yang berada di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNM ini diketuai oleh Dr. Najamuddin, M.Hum, bersama tim dosen dan mitra pengabdian.
Kepada media Sabtu 6 Juni 2026, Dr Najamuddin menjelaskan, kegiatan PKM Internasional ini dipusatkan di Institut Terjemahan & Buku Malaysia (ITBM) Kuala Lumpur dengan menghimpun masyarakat Bugis-Makassar yang bekerja dan menetap di Malaysia.
Menariknya, pimpinan ITBM diketahui merupakan alumni Universitas Negeri Makassar.
PKM Internasional tersebut mengangkat tema “Revitalisasi Nilai Sosial Budaya melalui Program Interaksi Multikultural dalam Memperkuat Kohesi Sosial Komunitas Diaspora Bugis di Malaysia.”
Program ini bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai sosial budaya Bugis yang berpotensi mengalami perubahan akibat proses migrasi dan kehidupan masyarakat perantauan di luar negeri, kata Ketua Prodi S3 Sosiologi UNM ini.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah membangun interaksi multikultural antara diaspora Bugis dengan masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan budaya di Malaysia.
Program PKM Internasional ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan merevitalisasi nilai-nilai sosial budaya Bugis melalui interaksi multikultural guna memperkuat kohesi sosial komunitas diaspora Bugis di Malaysia.
Lewat program ini diharap dapat memperkokoh identitas budaya, meningkatkan solidaritas sosial, serta membangun hubungan yang harmonis antara diaspora Bugis dan masyarakat multikultural di Malaysia,” ujar Dr. Najamuddin.
Pada pelaksanaannya, kegiatan diisi dengan sosialisasi dan penyuluhan nilai-nilai budaya Bugis, dialog dan diskusi lintas budaya, pertemuan komunitas diaspora Bugis, hingga pengembangan jejaring sosial antara diaspora Bugis dan masyarakat Malaysia.
Dari perspektif sosiologi, program ini menjadi upaya strategis dalam memelihara modal sosial (social capital) komunitas diaspora, memperkuat integrasi sosial di tengah masyarakat multikultural, serta mengurangi potensi konflik yang dapat muncul akibat perbedaan budaya.
Melalui kegiatan ini, tim PKM UNM juga berharap keberlangsungan identitas budaya Bugis tetap terjaga di tengah arus globalisasi dan migrasi internasional, sekaligus mendorong terbentuknya masyarakat yang inklusif, harmonis, dan saling menghargai perbedaan.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari peserta yang merupakan diaspora Bugis-Makassar di Malaysia.
Mereka menilai program ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan identitas budaya bagi masyarakat Bugis yang merantau dan bekerja di negeri jiran. (Yamus)



