Tiga Tangan di Balik Satu Toga: Mahasiswa, Orang Tua, dan Dosen

Oleh: Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd
Makassar. Jika kita melihat seorang wisudawan berjalan di atas panggung dengan toga hitam dan senyum mengembang, yang terlihat hanyalah satu orang. Padahal sesungguhnya, di balik satu toga itu ada tiga pasang tangan yang saling menopang. Ada tangan mahasiswa yang berjuang, ada tangan orang tua yang mendoakan dan membiayai, dan ada tangan dosen yang menempa tanpa lelah. Inilah arti wisuda yang sesungguhnya, yang sering kali kita lupakan di tengah gemerlap seremonial dan foto studio.
Hari ini kita patut berbangga, salah satu putra terbaik kita, A. Guruh Rangga Putra. Patau, telah menyelesaikan Sarjana Psikologi di Universitas Bosowa Makassar. Sebuah capaian yang tidak datang dengan mudah. Psikologi adalah ilmu yang menuntut tidak hanya kecerdasan akademik, tetapi juga kepekaan hati, kesabaran mendengarkan, dan kemampuan memahami manusia yang begitu kompleks. Menyelesaikan studi di jurusan ini berarti Guruh telah melewati perjalanan panjang untuk belajar memahami jiwa orang lain, sebelum akhirnya ia memahami jati dirinya sendiri.
Inilah makna pertama dari wisuda. Wisuda bukanlah akhir dari belajar, melainkan pengakuan bahwa seseorang telah selesai ditempa untuk siap mengabdi. Toga yang dipakai bukanlah mahkota, melainkan tanggung jawab. Gelar Sarjana Psikologi yang disandang A. Guruh Rangga Putra. P bukanlah hiasan di belakang nama, melainkan amanah untuk membantu masyarakat yang hari ini banyak mengalami luka batin, kecemasan, dan kehilangan arah. Ilmu psikologi yang ia dapatkan di bangku kuliah harus hidup di tengah masyarakat.
Di balik keberhasilan Guruh, ada tangan pertama yang tidak pernah terlihat di panggung wisuda, yaitu tangan orang tua. Kita sering lupa menghitung berapa banyak air mata ibu yang jatuh saat anaknya mengeluh skripsi ditolak, berapa banyak keringat ayah yang menetes untuk membayar uang semester, berapa banyak doa yang dipanjatkan di sepertiga malam hanya agar anaknya bisa sampai ke hari wisuda. Orang tua adalah pahlawan sunyi dalam setiap wisuda. Mereka tidak memakai toga, tetapi kesabaran merekalah yang membuat toga itu bisa dipakai. Mereka tidak mendapat ijazah, tetapi keikhlasan merekalah yang menjadi ijazah paling utama.
Bagi orang tua, wisuda anaknya adalah wisuda kedua bagi dirinya. Wisuda kesabaran, wisuda pengorbanan, wisuda cinta tanpa syarat. Maka ketika seorang anak telah diwisuda, kewajiban moral pertamanya adalah tidak melupakan dari mana ia berasal. Gelar sarjana tidak boleh membuat jarak dengan orang tua, justru harus membuat semakin dekat dan semakin berbakti. Ilmu yang tinggi harus membuat lutut semakin rendah untuk mencium tangan orang tua.
Tangan kedua adalah tangan dosen. Di Universitas Bosowa Makassar, para dosen Psikologi telah menjalankan peran yang tidak ringan. Mereka bukan hanya mengajar teori-teori kepribadian, teori belajar, atau psikodiagnostik. Mereka juga menjadi tempat berkeluh kesah, menjadi pembimbing saat mahasiswa bingung menentukan judul skripsi, menjadi orang tua kedua yang kadang harus tegas, kadang harus merangkul. Dosen adalah penjaga mutu dari sebuah gelar. Tanpa ketegasan dan keikhlasan dosen, gelar sarjana hanya akan menjadi selembar kertas tanpa makna.
Kita harus mengakui, menjadi dosen hari ini tidak mudah. Mereka dituntut untuk terus mengikuti perkembangan ilmu, sambil tetap sabar menghadapi karakter mahasiswa yang beragam. Ketika seorang mahasiswa berhasil diwisuda, sesungguhnya di situlah keberhasilan dosen diukur. Bukan pada seberapa banyak mereka mengajar, tetapi pada seberapa banyak mereka berhasil mengantarkan mahasiswanya sampai ke garis finish dengan tetap membawa nilai-nilai kemanusiaan.
Lalu tangan ketiga adalah tangan mahasiswa itu sendiri, dalam hal ini A. Guruh Rangga Putra. P. Tidak ada wisuda tanpa perjuangan pribadi. Ada malam-malam begadang menyelesaikan tugas, ada rasa minder saat melihat teman lebih cepat selesai, ada rasa ingin menyerah saat revisi skripsi datang bertubi-tubi. Tetapi Guruh telah membuktikan bahwa ketekunan mengalahkan kebimbangan. Ia memilih untuk bertahan dan menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Inilah mentalitas yang harus dibawa setelah wisuda.
Karena harapan dari hasil wisuda sesungguhnya bukan terletak pada pesta dan ucapan selamat di media sosial. Harapan itu terletak pada apa yang akan dilakukan setelah toga dilepas. Apakah ilmu psikologi yang telah dipelajari akan disimpan di dalam lemari, atau akan digunakan untuk membantu sesama. Masyarakat kita hari ini sangat membutuhkan sarjana psikologi yang peka. Banyak anak muda yang mengalami kecemasan, banyak keluarga yang butuh pendampingan, banyak pekerja yang mengalami tekanan mental. Di sinilah peran lulusan seperti Guruh dibutuhkan.
Wisuda yang sesungguhnya adalah ketika ilmu itu bekerja. Ketika orang tua bisa tersenyum karena anaknya tidak hanya bergelar, tetapi juga berguna. Ketika dosen bisa bangga karena mahasiswanya tidak hanya lulus, tetapi juga beretika. Dan ketika almamater Universitas Bosowa Makassar bisa dikenal bukan karena megahnya gedung wisuda, tetapi karena lulusannya yang memberi kontribusi nyata.
Selamat kepada A. Guruh Rangga Putra, S.Psi atas gelar Sarjana Psikologi yang diraih. Ingatlah bahwa di balik toga yang engkau pakai, ada doa ibu yang tidak pernah putus, ada kerja keras ayah yang tidak pernah terlihat, dan ada bimbingan dosen yang tidak pernah lelah. Jaga ketiga tangan itu dengan cara menjaga ilmumu agar tetap bermanfaat. Sebab wisuda terbaik bukanlah yang paling meriah, melainkan yang paling memberi arti setelah hari wisuda itu sendiri berakhir.(*)



