Narasi Reflektif: Penggerak Literasi Multi-Ruang

Penulis: Dra. Sitti Dahlia Azis – Guru SMAN 3 Pinrang, Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025
Ada masa ketika saya tidak lagi memandang literasi sebagai satu ruang yang berdiri sendiri. Ia tidak hanya hadir di dalam kelas, tidak hanya hidup dalam komunitas, dan tidak hanya berhenti pada halaman buku.
Literasi, bagi saya Sitti Dahlia Azis, telah menjadi arus yang mengalir ke banyak arah—mengisi ruang-ruang yang berbeda, namun tetap membawa ruh yang sama.
Saya bergerak di beberapa ruang sekaligus. Di komunitas, saya merawat tumbuhnya karya dan penulis. Di ruang kebijakan dan jejaring, saya menyampaikan gagasan, opini, dan refleksi tentang pendidikan dan literasi. Di ruang kebahasaan dan sastra, saya belajar sekaligus berbagi.
Masing-masing ruang memiliki ritmenya sendiri, tetapi semuanya bertemu pada satu titik: keinginan untuk menjaga literasi tetap hidup.

Tidak semua perjalanan selalu berjalan mulus. Ada masa jeda, ada masa ketika komunikasi tidak sepenuhnya utuh, dan ada pula saat ketika struktur tidak bergerak secepat harapan. Namun dari situ saya belajar bahwa menggerakkan literasi bukan hanya soal kecepatan, tetapi tentang ketekunan menjaga nyala.
Saya tidak selalu berada di pusat perhatian, dan memang bukan itu tujuan saya. Tetapi menjaga agar karya tetap lahir, agar penulis tetap memiliki ruang, dan agar gagasan tidak berhenti menjadi sekadar wacana. Kadang saya berada di belakang layar, kadang di tengah percakapan, dan kadang di ruang refleksi yang sunyi. Tetapi di setiap posisi itu, saya tetap membawa satu hal yang sama: komitmen pada literasi.
Menjadi penggerak literasi di banyak ruang mengajarkan saya bahwa setiap kanal memiliki fungsinya sendiri. Komunitas menjadi rumah produksi karya. Jejaring menjadi jembatan gagasan. Lembaga menjadi ruang penguatan kebijakan. Dan di antara semuanya, saya belajar merangkai agar tidak saling bertabrakan, tetapi saling menguatkan.
Sadar bahwa perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling cepat, atau siapa yang paling terlihat. Tetapi tentang siapa yang tetap bertahan menjaga api kecil agar tidak padam, meskipun angin perubahan terus datang dari berbagai arah. Dan jika ada satu hal yang terus saya yakini, maka itu adalah ini: literasi tidak pernah hidup dalam satu ruang saja. Ia hidup di banyak ruang, dan tugas saya adalah memastikan ruang-ruang itu tetap terhubung, tetap bernapas, dan tetap menghasilkan cahaya.@SDA

