Mentan Andi Amran Sulaiman Minta Maba Unismuh Makassar Mandiri dan Tidak Bermental Peminta

MAKASSAR. Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman membuka kisah masa mudanya di hadapan ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Bukan cerita tentang ruang kerja kementerian ataupun rapat kabinet. Amran justru bercerita mengenai kamar kos sederhana, sumur berbau, penolakan, serta ejekan yang pernah diterimanya ketika masih muda.
Kisah itu disampaikan saat memberikan kuliah umum pada Taaruf Mahasiswa Baru Unismuh Makassar Tahun Akademik 2026/2027 di Balai Sidang Muktamar ke-47 Unismuh Makassar, Sabtu (12/9/2026).
Di hadapan sekitar 3.500 mahasiswa baru serta 500 dosen dan tenaga kependidikan, Amran memperlihatkan gambar tempat kos yang pernah ditempatinya semasa kuliah.
“Ini kos-kosan saya dulu. Ini kamar saya. Ini sumur,” kata Amran sambil menunjukkan gambar di layar.
Ia kemudian menceritakan kondisi tempat tinggalnya yang jauh dari nyaman. Selama sekitar empat tahun, dirinya harus menggunakan air sumur yang berdekatan dengan toilet.
“Bayangkan, empat tahun mandi dengan air sumur yang bau,” ujarnya.
Cerita tersebut sempat mengundang tawa mahasiswa. Namun, Amran menegaskan bahwa pengalaman itu bukan kenangan yang harus disesali.
Keterbatasan dan kesulitan, menurutnya, justru menjadi tekanan yang membentuk mentalnya. Ia mengibaratkan proses tersebut seperti berlian yang terbentuk karena tekanan besar.
“Berlian itu terbentuk karena tekanan yang luar biasa. Begitu juga manusia. Karena itu, jangan pernah mengeluh,” pesannya.
Pernah Diremehkan karena Anak Desa
Amran juga memperlihatkan foto dirinya ketika masih muda. Penampilannya saat itu jauh berbeda dengan sosok yang kini menduduki jabatan Menteri Pertanian.
Ia mengenang masa ketika dirinya pernah dipandang sebelah mata. Bahkan, ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tidak mungkin menjadi pejabat karena berasal dari desa.
“Kamu tidak mungkin menjadi pejabat. Kamu anak desa, anak kampung,” kata Amran, menirukan ucapan yang pernah diterimanya.
Ucapan tersebut tidak dibalasnya dengan kemarahan. Amran memilih menyimpannya sebagai energi untuk belajar dan bekerja lebih keras.
“Saya hanya mengurut dada. Ya Allah, berikan aku kekuatan,” tuturnya.
Lima belas tahun kemudian, Amran kembali bertemu dengan orang yang pernah meremehkannya. Ketika itu, jalan hidup telah mengantarkannya menjadi Menteri Pertanian.
Alih-alih membalas perlakuan masa lalu, Amran memilih memaafkan. Dari pengalaman tersebut, ia berpesan kepada mahasiswa agar tidak menyimpan dendam.
“Kalau ada yang menghina atau mencaci maki kamu, itu adalah guru terbaik yang bisa mengangkat kamu secara eksponensial,” katanya.
“Jangan rawat dendam. Dalam Islam tidak boleh,” lanjutnya.
Jangan Bermental Proposal
Amran kemudian meminta mahasiswa baru Unismuh membangun kemandirian dan tidak menggantungkan masa depan kepada pemberian orang lain.
Menurutnya, keberhasilan tidak diperoleh secara instan, tetapi harus diraih melalui proses panjang, kerja keras, dan keberanian menghadapi kesulitan.
“Mau sukses, jangan selalu meminta uang kepada orang tua. Mau berhasil dalam hidup, harus berproses menjalaninya,” tegas Amran.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak memiliki “mental proposal”, yakni kebiasaan hanya mengharapkan bantuan tanpa berusaha menciptakan peluang sendiri.
“Bermental proposal dan bermental peminta akan membuat seseorang sulit berhasil. Yang bagus adalah bagaimana kita mampu menciptakan rupiah dan dolar melalui proses,” ujarnya.
Menurut Amran, mahasiswa harus tumbuh menjadi generasi produktif yang mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas untuk menghasilkan nilai ekonomi.
Mimpi Besar Harus Diikuti Tindakan
Amran mengajak mahasiswa berani memiliki mimpi besar. Namun, mimpi tersebut tidak boleh berhenti sebagai kata-kata indah tanpa gerakan nyata.
“Mimpi besar memang indah dalam narasi. Tetapi kalau tidak diwujudkan dalam gerakan, hasilnya nol,” katanya.
Amran merumuskan tiga hal yang harus dilakukan generasi muda untuk meraih keberhasilan, yakni bermimpi besar, bertindak besar, dan bekerja secara persisten.
“Mimpi besar, bertindak besar, persisten, Anda sukses,” tegasnya.
Ia menambahkan, kesuksesan tidak mengenal perbedaan perguruan tinggi, suku, agama, golongan, ataupun latar belakang keluarga. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah masa depan.
Amran pun mengingatkan mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan waktu selama menempuh pendidikan.
“Kalau Anda bermain-main hari ini, Anda akan dipermainkan oleh kehidupan 15 tahun ke depan,” ujarnya.
Ia menyebut mahasiswa yang diterima di Unismuh Makassar sebagai putra-putri terbaik yang membawa harapan orang tua.
“Anda adalah putra-putri terbaik yang masuk Unismuh. Harapan kedua orang tua ialah Anda kelak dapat mengubah kehidupan menjadi lebih baik,” katanya.
Karakter Tidak Bisa Dibeli
Selain kemandirian, Amran menekankan pentingnya karakter sebagai modal meraih kesuksesan.
Ia menyebut kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, dan konsistensi sebagai nilai yang harus dibangun sejak mahasiswa.
“Kehilangan uang tidak berarti kehilangan segala-galanya. Tetapi karakter dan kejujuran tidak bisa dibeli,” ucapnya.
Menurutnya, konsistensi merupakan salah satu karakter yang paling sulit dipertahankan. Banyak orang mampu memulai pekerjaan dengan semangat, tetapi tidak semuanya sanggup menjalaninya secara berkelanjutan.
“Jujur, disiplin, bekerja keras, dan konsisten. Yang paling sulit adalah konsisten. Jangan hanya dilakukan selama satu minggu, kemudian berhenti,” pesannya.
Amran meminta mahasiswa mempunyai keyakinan penuh terhadap cita-cita yang hendak dicapai.
“Kalau ingin sukses, harus haqqul yakin. Konsisten mengejar mimpi dan jangan mudah menyerah,” tambahnya.
Serahkan Bantuan Rp150 Juta
Pada kesempatan tersebut, Amran menyerahkan bantuan senilai Rp150 juta kepada puluhan mahasiswa baru penghafal Al-Qur’an.
Bantuan diserahkan secara tunai untuk selanjutnya dibagikan kepada para penerima.
Ia juga memberikan bantuan kepada mahasiswa baru yatim piatu dan mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Pada akhir kuliah umum, Amran berfoto bersama sejumlah mahasiswa kurang mampu. Ia meminta mereka menyimpan foto tersebut hingga menyelesaikan pendidikan.
Amran mengatakan para mahasiswa itu dapat menemuinya kembali setelah lulus untuk memperoleh kesempatan bekerja di jejaring perusahaannya.
“Nanti kalau sudah selesai studi, bawa kembali foto ini. Temui saya untuk direkrut menjadi karyawan di jejaring perusahaan,” kata Amran.
Rektor: Amran Motivator Nyata
Sebelum Amran menyampaikan kuliah umum, Rektor Unismuh Makassar Dr Ir H Abd Rakhim Nanda ST MT IPU menjelaskan pentingnya pengalaman hidup Menteri Pertanian didengarkan mahasiswa baru.
Menurut Rakhim, Amran tidak hanya pandai memberikan motivasi, tetapi juga menjadi contoh nyata seseorang yang merancang dan memperjuangkan masa depannya.
“Beliau adalah motivator yang nyata, bukan hanya ulung dalam menyampaikan motivasi, tetapi sekaligus menjadi contoh nyata dari sebuah kesuksesan yang dirancang dari masa lalu menuju masa depan,” ujar Rakhim.
Rektor mengingatkan mahasiswa baru bahwa mereka kini berada pada titik awal untuk merancang masa depan.
Orasi Amran pun menjadi lebih dari sekadar cerita seorang menteri. Di hadapan mahasiswa baru Unismuh, ia memperlihatkan dua gambaran perjalanan hidup: anak kos yang pernah mandi dengan air sumur berbau dan sosok yang kemudian dipercaya menduduki jabatan Menteri Pertanian.
Di antara dua gambaran itu terdapat perjalanan panjang bernama proses.
“Tidak ada manusia yang sukses secara tiba-tiba,” pungkas Amran.(*)



