Dari Bontomacinna Menuju SulSel, Fahira Najwa Salsabila, Sang Maestro Cerpen Bahasa Bugis dari SDN 203 Bulukumba

BULUKUMBA, Dunia Pendidikan – Sebuah prestasi membanggakan lahir dari generasi muda di Bumi Panrita Lopi. Fahira Najwa Salsabila, siswi berbakat asal SDN. 203 Bontomacinna, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, berhasil mengukir, tinta emas dengan menyabet juara 1 pada Lomba Menulis Cerita Pendek ( Cerpen ) Bahasa Bugis Kategori Putri pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kab. Bulukumba Tahun 2026.
Ajang bergengsi ini, yang berlangsung sengit di SMPN. 2 Bulukumba pada tanggal, 7 – 9 Oktober 2026 menjadi saksi keandalan dan kepiawaian Najwa dalam merangkai kata, merajut narasi, serta merawat kelestarian bahasa ibu melalui karya sastra tertulis.
Dominasi Penulisan dan Keindahan Bahasa Ibu
Sejak hari pertama kompetisi, Fahira Najwa Salsabila telah mencuri perhatian para dewan juri. Kemampuannya dalam mengolah kosa kata bahasa bugis yang kaya, dipadukan dengan alur cerita yang imajinatif dan mendalam, menjadikannya tampil unggul diantara puluhan peserta perwakilan Sekolah Dasar (SD) se – Kab. Bulukumba.
Lomba Menulis Cerpen Bahasa Bugis pada FTBI 2026 ini, bukan sekadar ajang kompetisi biasa, melainkan wadah krusial dalam memperkuat identitas budaya lokal. Di tengah gempuran modernisasi, Najwa membuktikan bahwa bahasa daerah tetap memiliki daya pikat yang luar biasa dan mampu dihidupkan kembali secara indah melalui jemari generasi muda.
Buah Ketekunan dan Kerja Keras Tanpa Lelah
Keberhasilan yang diraih oleh Najwa, bukanlah sebuah kebetulan yang datang tiba-tiba. Di balik piala dan piagam penghargaan yang digenggamnya, terdapat dedikasi, kedisiplinan, serta latihan intensif yang dijalani secara konsisten.
Kepala SDN. 203 Bontomacinna, Nuhriadi memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas pencapaian luar biasa yang diraih oleh anak didiknya tersebut. Beliau pun menegaskan bahwa kemenangan ini merupakan buah manis dari perjuangan dan ketekunan Fahira Najwa Salsabila selama masa persiapan “, tegasnya
” Prestasi ini adalah hasil Nyata dari kerja keras, ketekunan, dan semangat berlatih yang pantang menyerah dari Ananda Najwa. Kami dari pihak sekolah merasa sangat bangga dan bersyukur. Fahira telah membuktikan bahwa dengan kesungguhan, potensi anak-anak dari SDN. 203 Bontomacinna mampu bersaing dan menjadi yang terbaik di tingkat kabupaten “, ujar Nuhriadi dengan penuh rasa haru dan bangga.
Momentum Bangkitnya Kecintaan Generasi Muda pada Bahasa Daerah
Lebih lanjut, Orang nomor satu di SDN. 203 Bontomacinna, Nuhriadi menekankan bahwa kemenangan Najwa memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar piala juara. Kemenangan ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat dan momentum emas bagi seluruh siswa, tidak hanya di SDN. 203 Bontomacinna, tetapi juga di seluruh penjuru Kab. Bulukumba, untuk kembali mencintai dan melestarikan bahasa ibu “, harap Nuhriadi
” Bahasa Bugis adalah warisan leluhur yang sangat kaya akan nilai-nilai kearifan lokal. Keberhasilan Najwa ini harus menjadi momentum penting untuk mendorong kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah kita. Kita ingin anak-anak tidak malu menggunakan dan berkarya dengan bahasa ibu mereka sendiri “, tambah Nuhriadi
Bersiap Menguncang Panggung Sulawesi Selatan
Dengan gelar juara 1 Tingkat Kabupaten Bulukumba ditangannya, Fahira Najwa Salsabila kini resmi mengemban amanah besar. Ia bersiap melangkah ke babak selanjutnya untuk mewakili Kab. Bulukumba pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 Tingkat Provinsi SulSel.
Kini, dukungan dan do’a mengalir deras dari selueuh keluarga besar SDN. 203 Bontomacinna, jajaran pendidik Kec. Gantarang, hingga masyarakat Bulukumba. Berbekal prestasi manis, kematangan teknik menulis, dan semangat yang berkobar, Najwa siap membawa nama harum sekolah dan daerahnya di panggung kompetisi tingkat provinsi.
Langkah Fahira Najwa Salsabila menuju tingkat provinsi bukan sekadar perburuan gelar juara lanjutan, melainkan sebuah misi suci : membuktikan bahwa tunas-tunas muda dari Sekolah Dasar (SD) di Butta Panrita Lopi mampu menjadi benteng terdepan dalam menjaga keabadian bahasa dan budaya lokal Sulawesi-Selatan “, pungkasnya # Andi Nasar



