Inspirasi

TERUSLAH  BERKARYA: Motivasi bagi Guru dan Pecinta Sastra

Penulis: Dra. Sitti Dahlia Azis (Guru SMAN 3 Pinrang, Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025

Awal (Pendahuluan)
Menulis dan membukukan karya adalah bagian dari pengabdian intelektual seorang guru dan pecinta sastra. Aktivitas ini sering dilakukan di sela-sela kesibukan mengajar, mendampingi peserta didik, serta menjalani peran sosial lainnya. Tidak selalu ada apresiasi atau publikasi luas, namun karya tetap menjadi bukti kesungguhan kita dalam merawat bahasa, nilai, dan peradaban.
Tantangan
Banyak guru dan pegiat sastra menghadapi tantangan yang serupa. Minat baca yang belum kuat membuat karya sastra kerap dianggap tidak relevan dengan kebutuhan praktis. Media sosial dipenuhi personal branding yang cepat menarik perhatian, sementara tulisan reflektif dan buku hasil perenungan panjang berjalan perlahan. Selain itu, keterbatasan waktu, energi, dan dukungan penerbit sering membuat semangat menulis surut sebelum karya sempat dibukukan.
Aksi, Ide, dan Solusi
Di tengah tantangan tersebut, langkah kecil namun konsisten menjadi kunci. Menulis secara rutin, mengarsipkan karya, lalu membukukannya—baik secara cetak maupun digital—adalah bentuk tanggung jawab intelektual. Guru dapat mengangkat pengalaman mengajar, nilai kehidupan, dan refleksi sosial sebagai bahan tulisan. Promosi karya boleh dilakukan secara santun, tanpa provokasi, dengan menjadikan buku sebagai medium berbagi inspirasi. Inovasi juga dapat dilakukan melalui komunitas literasi agar proses berkarya terasa saling menguatkan, bukan berjalan sendiri.
Pencapaian
Hasil dari aksi ini mungkin tidak selalu tampak instan, tetapi nyata. Karya yang dibukukan menjadi referensi, bahan diskusi, dan sumber motivasi bagi pembaca lain. Peserta didik melihat teladan nyata bahwa gurunya bukan hanya pengajar, tetapi juga penulis dan pemikir. Di titik inilah sastra menemukan fungsinya: menghidupkan nurani, memperkaya sudut pandang, dan menjaga tradisi berpikir kritis. Melalui tulisan, seorang guru dan penggerak literasi dapat berbagi ide kepada pembaca serta rekan maupun peserta didik.
Refleksi
Bagi guru dan peminat sastra, refleksi pentingnya adalah memahami bahwa nilai karya tidak ditentukan oleh viralitas, melainkan kebermanfaatannya. Evaluasi atas capaian bukan untuk berpuas diri, tetapi untuk memperbaiki kualitas tulisan dan memperluas dampak. Kelak, ketika waktu berlalu, karya yang ditulis dengan ketulusan akan tetap hidup dan mengingatkan bahwa kita pernah mengambil peran dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui kata.***

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda