Dampak Kebakaran Hutan

Oleh: Sitti Dahlia Azis
Gunung yang dahulu menghijau kini mulai gundul. Pohon-pohon yang selama ini menjadi penyangga tanah telah hilang dilalap api. Tak ada lagi akar yang cukup kuat untuk menahan tanah dan membantu menyerap air. Ketika musim hujan tiba, banjir dan tanah longsor pun mengancam.
Penanaman kembali memang bisa dilakukan, tetapi membutuhkan waktu yang panjang. Berapa lama pohon-pohon itu akan tumbuh dan kembali menghijaukan gunung? Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bibit dan merawatnya hingga tumbuh besar?
Sementara itu, dampaknya telah kita rasakan.
Ya Allah, rencana apa lagi ini? Udara yang seharusnya kita hirup dengan bebas kini tercemar asap. Kami kembali disuruh memakai masker, bukan karena pandemi COVID-19, melainkan karena asap kebakaran hutan.
Kabut juga mengurangi jarak pandang. Para pengendara harus lebih berhati-hati agar terhindar dari kecelakaan.
Sungguh, kebakaran hutan bukan hanya menghanguskan pepohonan. Ia juga mengancam kehidupan manusia, merusak habitat satwa, mencemari udara, dan meninggalkan kerusakan yang membutuhkan waktu lama untuk dipulihkan.
Alam bukan sekadar tempat kita berpijak, melainkan titipan yang harus kita jaga.
Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya hutan setelah pepohonan hilang, udara menjadi sesak, dan bencana datang silih berganti.
Menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas pemadam kebakaran. Itu adalah tanggung jawab kita bersama. Sebab, ketika alam terluka, manusia juga akan merasakan akibatnya.(*)



