Daerah

Menulis untuk Abadi: SASISAKI SMPN 2 Sungguminasa Menumbuhkan Generasi Literasi

Budaya literasi bukan sekadar slogan di lingkungan SMPN 2 Sungguminasa, melainkan menjadi denyut nadi dalam proses pembelajaran sehari-hari. Di tengah tantangan era digital, sekolah ini terus meneguhkan komitmennya dalam menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis sebagai fondasi utama pembentukan karakter dan kecakapan berpikir kritis peserta didik.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, sekolah menggelar Seminar Menulis Cerpen pada Sabtu (14/2) di ruang Laboratorium Komputer. Kegiatan ini merupakan bagian dari program unggulan bertajuk SASISAKI (Satu Siswa Satu Kisah), sebuah gerakan literasi yang mendorong setiap siswa untuk menuliskan pengalaman dan refleksi mereka dalam bentuk cerita pendek.
Program SASISAKI diinisiasi oleh Muji Budi Lestari, guru di SMPN 2 Sungguminasa, dan dilaksanakan melalui kolaborasi bersama Tim Asistensi Mengajar Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Makassar. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini turut didampingi guru pamong, Hadijah, sehingga proses pendampingan siswa berlangsung optimal dan terarah.
Ruang Ekspresi, Ruang Kenangan
Program ini secara khusus menyasar siswa kelas IX yang akan segera menuntaskan masa belajar di jenjang SMP. SASISAKI hadir sebagai ruang ekspresi sekaligus ruang kenangan, tempat para siswa menuangkan pengalaman, harapan, dan pembelajaran hidup mereka dalam bentuk cerpen yang nantinya akan dihimpun menjadi sebuah buku antologi.
Sebanyak 50-an siswa mengikuti seminar ini dengan penuh antusiasme. Karena bersifat sukarela, peserta yang terlibat merupakan siswa yang memiliki minat dan komitmen kuat untuk mengabadikan kisahnya dalam bentuk tulisan. Semangat mereka tampak dari keseriusan saat menyimak materi maupun ketika mulai merangkai kata demi kata.
Dalam sesi bertajuk From Literacy to Legacy, Muji Budi Lestari menegaskan bahwa menulis adalah cara untuk “ada” dan meninggalkan warisan intelektual. Ia mengajak siswa berani menuliskan kisah, baik berdasarkan pengalaman nyata (based on true story) maupun cerita fiksi, dengan tetap menyelipkan nilai-nilai moral dan budaya lokal Makassar maupun Gowa.
“Menulis bukan sekadar tugas sekolah, tetapi jejak yang akan dikenang. Ketika tulisan dibukukan, nama dan kisah kalian akan tetap hidup di perpustakaan sekolah,” ujarnya memotivasi peserta.
Menulis dengan Jujur dan Mengalir
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Filawati, dosen Bahasa dan Sastra FBS UNM. Ia membagikan rumus sederhana dalam menulis cerita: Pengalaman + Perasaan + Perubahan = Cerita. Menurutnya, cerpen yang menyentuh lahir dari kejujuran emosi, bukan semata-mata dari kerumitan alur.
Dr. Filawati juga memperkenalkan teknik Tulis Mengalir untuk mengatasi hambatan mental (mental block). Dalam teknik ini, siswa diminta menulis tanpa berhenti, tanpa menghapus, dan tanpa memikirkan ejaan terlebih dahulu. Fokus utama adalah menuangkan gagasan secara bebas sebelum memasuki tahap penyuntingan.
Sebagai langkah awal, siswa dipandu menyusun draf melalui empat unsur sederhana: satu tokoh, satu masalah, satu tempat, dan satu benda penting. Pendekatan ini terbukti membantu siswa lebih mudah memulai cerita dan menjaga fokus narasi.
Apresiasi dan Harapan Sekolah
Wakil Kepala SMPN 2 Sungguminasa, Nasruddin Hamsar, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan program ini. Menurutnya, SASISAKI merupakan langkah strategis dalam mengasah kreativitas sekaligus membangun kepercayaan diri siswa.
Program ini diharapkan menjadi awal dari tradisi literasi yang berkelanjutan di sekolah. Dengan terbitnya buku antologi cerpen siswa kelas IX nantinya, nama dan kisah mereka akan tersimpan sebagai bagian dari sejarah sekolah—menjadi inspirasi bagi adik-adik kelas dan bukti bahwa setiap siswa memiliki cerita yang layak diabadikan.
Melalui SASISAKI, SMPN 2 Sungguminasa tidak hanya menanamkan keterampilan menulis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap pengalaman memiliki makna. Dari ruang laboratorium komputer, lahirlah benih-benih penulis muda yang belajar bahwa kata-kata mampu menjelma warisan—dari literasi menuju legacy. #Syamsud

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda