Berita

Di Rakernas IKAPROBSI, Wamen Dzulfikar Tekankan Pentingnya Bahasa bagi Peradaban

Makassar. Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla, M.I.Kom., menegaskan pentingnya perguruan tinggi memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Dzulfikar saat memberi sambutan pada pembukaan Rapat Kerja Nasional X dan Seminar Internasional Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atau IKAPROBSI.
Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Four Points Makassar, Jumat (7/8/2026).
Forum nasional dan internasional itu diselenggarakan dengan Universitas Muhammadiyah Makassar sebagai tuan rumah.
Dalam sambutannya, Dzulfikar mengatakan perguruan tinggi tidak boleh hanya bangga dengan gedung tinggi dan fasilitas mewah.
Menurutnya, ukuran utama kampus adalah sejauh mana keberadaannya memberi kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban.
ā€œPerguruan tinggi harus berdampak. Jangan sampai kampus memiliki gedung tinggi dan mewah, tetapi tidak memberi dampak bagi masyarakat,ā€ kata Dzulfikar Ahmad Tawalla, M.I.Kom.
Dzulfikar juga menyoroti pentingnya pelestarian bahasa dan sastra Indonesia.
Ia menyebut pemerintah saat ini memberi perhatian terhadap penguatan literasi, keterampilan menulis, serta pelestarian bahasa dan sastra Indonesia.
Menurutnya, perhatian itu penting karena tantangan literasi kini tidak hanya dihadapi anak-anak, tetapi juga generasi milenial, Generasi Z, dan Generasi Alfa.
Ia mengatakan, keterampilan membaca dan menulis menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia harus terus diperkuat, baik di sekolah maupun perguruan tinggi.
Dzulfikar menjelaskan, peradaban besar dunia selalu meninggalkan jejak melalui bahasa dan tulisan.
Ia mencontohkan bangsa Sumeria dan Mesir yang dikenal sebagai peradaban besar karena mampu merekam dinamika kehidupan mereka melalui bahasa, aksara, dan karya tulis.
Menurutnya, bahasa menjadi penanda penting dalam membaca kemajuan sebuah peradaban.
Artefak dan warisan sejarah bangsa-bangsa besar, kata dia, dapat dipahami hari ini karena terekam dalam bahasa yang digunakan pada masanya.
ā€œBahasa tidak bisa dipandang sebelah mata,ā€ tegasnya.
Dalam konteks Indonesia, Dzulfikar menyinggung karya sastra besar dari Sulawesi Selatan, yakni I La Galigo.
Ia menyebut I La Galigo sebagai salah satu warisan sastra yang luar biasa dan menjadi bukti tingginya peradaban masyarakat Nusantara.
Karya tersebut, kata dia, bahkan memiliki cakupan sangat besar dan hingga kini masih dapat disaksikan serta dibaca.
Dzulfikar menilai keberadaan I La Galigo menunjukkan bahwa Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, memiliki tradisi literasi dan kebahasaan yang kuat.
Karena itu, generasi hari ini perlu mengenal, merawat, dan mengembangkan warisan bahasa serta sastra tersebut.
Ia juga mengaitkan pentingnya bahasa dengan mobilitas pekerja migran Indonesia di luar negeri.
Menurut Dzulfikar, pekerja migran tidak hanya bekerja dan menggerakkan ekonomi keluarga melalui remitansi, tetapi juga membawa identitas bangsa.
Dalam interaksi sehari-hari di negara penempatan, pekerja migran Indonesia berpotensi menjadi pengenal bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan bahasa juga menjadi tantangan penting bagi pekerja migran.
Selain bahasa Inggris, pekerja yang memasuki pasar kerja global sering kali harus memahami bahasa nasional atau bahasa lokal negara tujuan.
ā€œTidak gampang masalah bahasa ini,ā€ ujar Dzulfikar.
Karena itu, ia menilai perguruan tinggi, termasuk program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, memiliki peran strategis.
Kampus dapat berkontribusi dalam penguatan literasi, kemampuan komunikasi, pembelajaran bahasa, serta pemahaman lintas budaya.
Dzulfikar berharap dunia pendidikan tidak berhenti pada kegiatan akademik semata.
Perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, termasuk dalam menyiapkan generasi yang kuat secara literasi dan mampu beradaptasi dengan perkembangan global.
ā€œUpaya untuk menghadirkan kompetensi yang andal, kompetensi yang unggul, ini upaya yang tidak boleh terhenti,ā€ katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Rakernas yang juga Ketua IKAPROBSI Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., mengatakan pekerja Indonesia di luar negeri tidak hanya membawa kompetensi profesional.
Menurut Prof. Andis, sapaan akrab Wakil Rektor I Unismuh Makassar itu, mereka juga membawa budaya dan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di negara tempat bekerja.
ā€œKita berharap pekerja-pekerja kita di luar itu tidak membawa dirinya sendiri, tetapi membawa budaya Indonesia. Bisa juga menyosialisasikan bahasa Indonesia di luar negeri,ā€ kata Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum.
Ketua Umum IKAPROBSI, Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., juga menyampaikan bahwa banyak dosen pendidikan bahasa dan sastra Indonesia menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau BIPA di luar negeri.
Menurutnya, pengajar BIPA telah hadir di lebih dari 45 negara dan melibatkan lebih dari 650 lembaga penyelenggara.
Rakernas X dan Seminar Internasional IKAPROBSI di Makassar diharapkan menjadi ruang konsolidasi akademik untuk memperkuat peran pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.
Forum ini juga diharapkan melahirkan gagasan konkret dalam penguatan literasi, pelestarian bahasa, pengembangan sastra, serta diplomasi bahasa Indonesia di tingkat global.(yamus)

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda