Inspirasi

MERDEKA! … MERAH PUTIH TERUSLAH BERKIBAR

Oleh: Sitti Dahlia Azis

(~Lampu temaram menyorot seorang individu yang berdiri melamun di dekat jendela. Di luar, fajar menyingsing, memperlihatkan bendera merah putih yang berkibar pelan~.)
Delapan puluh satu tahun. Angka yang tidak lagi muda untuk sebuah ingatan, tetapi begitu riuh untuk sebuah perjalanan.
Di luar sana, umbul-umbul merah putih sudah menari-nari sejak awal bulan. Suara gelak tawa anak-anak mengikuti riuhnya perlombaan di gang-gang sempit, dan lagu-lagu kebangsaan bergema dari pengeras suara balai warga.
Semuanya terasa akrab, seperti ritual tahunan yang hangat. Namun pagi ini, saat angin fajar menyentuh wajah, ada bisikan halus yang mengusik benak: apa arti delapan puluh satu ini untuk jiwaku sendiri?
Apakah kemerdekaan hanya sebatas kemeriahan yang meletup tiap belas Agustus? Ataukah ia adalah sunyi yang bertahan setelah panggung pesta dibongkar?
Aku memejamkan mata, membayangkan tapak-tapak kaki telanjang para pendahulu. Mereka yang menyerahkan masa muda, darah, dan hembusan napas terakhir tanpa pernah tahu apakah nama mereka akan terukir di batu nisan atau menguap begitu saja ditelan zaman. Mereka tidak pernah meminta tanda jasa; mereka hanya ingin menitipkan sebuah rumah yang aman bernama Indonesia. Dan kini, rumah ini telah menua, berdiri tegak melewati delapan puluh satu gelombang ujian.
Tapi terkadang, aku menangkap getar kelelahan di sudut-sudut dinding rumah ini. Kita sering kali terlalu bising bertengkar di ruang-ruang maya, saling melempar prasangka tentang siapa yang paling mencintai tanah air, hingga lupa bahwa merdeka bukanlah izin untuk merusak tatanan rumah sendiri.
Merdeka adalah keberanian untuk memeluk perbedaan tanpa sedikit pun menanggalkan rasa persaudaraan.
Menyambut HUT RI ke-81 ini bukan sekadar menghadiri seremoni atau memasang spanduk megah. Ini adalah waktu untuk berdiri di depan cermin besar kehidupan. Menatapnya membuatku sadar bahwa menjadi Indonesia adalah sebuah ikhtiar yang tak pernah usai. Kemerdekaan adalah estafet panjang, dan detik ini, tongkat itu berada tepat di dalam genggaman jemariku.
Aku menghela napas dalam-dalam, lalu menggenggam jemari sendiri. Ada hangat yang mendesak di dada. Aku tidak ingin lagi menjadi sekadar penonton yang riuh bertepuk tangan dari kejauhan. Aku ingin menjadi bagian dari denyut nadi negeri ini—belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan nurani, dan mencintai dengan jujur.
Delapan puluh satu tahun engkau menopang mimpi-mimpi kami, wahai Ibu Pertiwi. Hari ini, biarkan kami yang berjanji untuk menjaga apimu agar tak pernah padam.
SALAM SEMANGAT KEMERDEKAAN
Pinrang, 17 Agustus 2026

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda