Dr Nurjannah Abna Bahas Nilai Silaturahim dalam Sastra Bugis, Tampil Bersama Prof Andis di TVRI Sulsel

Makassar. Dekan Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., tampil sebagai salah satu narasumber dalam program dialog budaya Pappaseng ri Elompugi episode ke-19 di TVRI Sulawesi Selatan, Kamis (15/10/2026).
Dalam dialog tersebut, Nurjannah Abna membahas pappaseng dari perspektif sastra, khususnya nilai-nilai silaturahim, penghargaan terhadap sesama, serta pentingnya menjaga hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.
Program yang digagas akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., ini mengangkat tema “Pappaseng tentang Silaturahim, Merawat Ingatan dan Menjaga Hubungan”.
Selain Nurjannah Abna, hadir Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unismuh Makassar, Prof. Dr. dr. Hj. Suryani As’ad, M.Sc., Sp.GK(K)., serta Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr. H. Wahyuddin Hakim, M.Hum.
Prof. Andi Sukri Syamsuri yang akrab disapa Prof. Andis hadir sebagai narasumber utama sekaligus penggagas program.
Dialog budaya tersebut dipandu Eric Alamsyah, sementara pelaksanaan program digerakkan oleh Dr. Muhammad Akhir, M.Pd., bersama tim.
Nurjannah Abna Kupas Pappaseng sebagai Warisan Sastra Bugis
Kehadiran Nurjannah Abna dalam dialog tersebut memberikan perspektif kesusastraan terhadap pesan-pesan leluhur masyarakat Bugis-Makassar.
Dalam kajian sastra, pappaseng merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang mengandung nasihat, nilai moral, pandangan hidup, serta filosofi hubungan antarmanusia.
Warisan budaya ini tidak hanya memperlihatkan kekayaan bahasa daerah, tetapi juga menggambarkan cara masyarakat Bugis memahami kehidupan sosial dan hubungan dengan sesama.
Salah satu kekuatan pappaseng terletak pada penggunaan bahasa simbolik dan perumpamaan yang sederhana, tetapi mengandung makna mendalam.
Melalui pendekatan sastra, ungkapan-ungkapan tersebut dapat dibaca sebagai cerminan nilai budaya yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Tema silaturahim yang diangkat dalam episode ke-19 juga memperlihatkan hubungan erat antara sastra dan kehidupan sosial.
Dalam tradisi Bugis-Makassar, pesan tentang menjaga hubungan, menghormati orang lain, serta mengenang kebaikan sesama merupakan bagian dari nilai kehidupan yang diwariskan melalui bahasa dan tradisi lisan.
Perspektif kesusastraan yang dibawakan Nurjannah Abna memperkaya pemahaman mengenai pappaseng sebagai warisan budaya yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.
Prof Andis Buka Dialog dengan Pappaseng tentang Silaturahim
Mengawali dialog, Prof. Andis menyampaikan salah satu pesan leluhur Bugis yang mengandung makna mendalam mengenai pentingnya menjaga ingatan dan hubungan antarmanusia.
“Sengeka simata jarung kubali sengetokki sipupureng lino.”
Ungkapan tersebut memiliki makna, “Kenanglah daku seruncing mata jarum, maka akan kuingat dan kukenang sepanjang hidup.”
Pesan ini menjadi pengantar pembahasan tentang silaturahim, merawat ingatan, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Dari perspektif sastra, ungkapan tersebut menarik karena menggunakan perumpamaan mata jarum untuk menggambarkan sesuatu yang sangat kecil, tetapi memiliki makna besar.
Perumpamaan itu dapat dimaknai sebagai penghargaan terhadap perhatian dan kebaikan seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
Kebaikan yang sederhana dapat meninggalkan kesan mendalam dan menjadi bagian dari ingatan sepanjang kehidupan.
Pesan tersebut juga menggambarkan bagaimana masyarakat Bugis menggunakan bahasa yang padat makna untuk menyampaikan nilai kesetiaan, penghormatan, dan hubungan sosial.
Dalam konteks ini, pappaseng bukan sekadar ungkapan tradisional, melainkan juga karya sastra lisan yang menyimpan pengetahuan dan kebijaksanaan masyarakat.
Sastra Daerah Penting Diperkenalkan kepada Generasi Muda
Pembahasan pappaseng dari perspektif sastra juga berkaitan dengan pentingnya pelestarian bahasa dan budaya daerah.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi masyarakat, tradisi lisan menghadapi tantangan dalam proses pewarisan kepada generasi berikutnya.
Generasi muda semakin akrab dengan bahasa dan budaya populer yang berkembang melalui media digital.
Sementara itu, berbagai ungkapan tradisional yang mengandung nilai kehidupan berpotensi semakin jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Karena itu, kajian sastra memiliki peran penting dalam mendokumentasikan, menafsirkan, dan memperkenalkan kembali pesan-pesan leluhur kepada masyarakat.
Perguruan tinggi, khususnya fakultas yang mengembangkan kajian bahasa dan sastra, mempunyai ruang untuk berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan kegiatan literasi budaya.
Pembahasan yang melibatkan Dekan Fakultas Sastra UMI Makassar ini sekaligus memperlihatkan pentingnya peran akademisi dalam memperluas pemahaman masyarakat mengenai warisan sastra Bugis-Makassar.
Pelestarian pappaseng tidak cukup hanya dengan mengingat atau mencatat ungkapannya.
Makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu dipahami agar dapat terus menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda.
Akademisi Kedokteran dan Pendidikan Turut Bahas Pappaseng
Selain perspektif sastra yang dibawakan Nurjannah Abna, dialog episode ke-19 juga menghadirkan pembahasan dari bidang kedokteran dan pendidikan.
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unismuh Makassar, Prof. Suryani As’ad, mengangkat empat nilai pappaseng Bugis yang diharapkan menjadi bekal pembentukan karakter mahasiswa kedokteran.
Keempat nilai tersebut adalah Mappaccing Ati atau hati yang bersih dan suci, Mapaccing Lila atau tutur kata yang sopan, Mapaccing Watakkale atau menjaga kebersihan diri, serta Mapaccing Pangkaukang atau menjaga kebersihan sikap dan perilaku.
Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membentuk calon dokter yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan keterampilan medis, tetapi juga menjunjung tinggi etika dan kemanusiaan.
Sementara itu, Dr. H. Wahyuddin Hakim, M.Hum., membahas pentingnya pendidikan karakter bagi generasi penerus.
Ia menekankan peran pendidik dalam membentuk siswa yang memiliki perilaku baik melalui keteladanan dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan.
Wahyuddin juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan Kurikulum Cinta yang menempatkan kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama sebagai bagian penting dalam pendidikan.
Kehadiran ketiga akademisi tersebut memperlihatkan bahwa pappaseng dapat dikaji melalui berbagai disiplin ilmu, mulai dari sastra, kesehatan, hingga pendidikan.
Prof Andis Dorong Pelestarian Sastra Bugis-Makassar Lewat TVRI
Program Pappaseng ri Elompugi merupakan salah satu ruang dialog budaya yang digagas Prof. Andis untuk memperkenalkan kembali pesan-pesan leluhur masyarakat Bugis-Makassar.
Prof. Andis juga dikenal sebagai Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Sulawesi Selatan.
Melalui program yang memasuki episode ke-19 tersebut, berbagai nilai kearifan lokal dibahas dengan melibatkan akademisi dari disiplin ilmu berbeda.
Kehadiran Dekan Fakultas Sastra UMI Makassar, Nurjannah Abna, menjadi bagian penting dalam memperkuat perspektif kesusastraan pada pembahasan kali ini.
Dialog budaya melalui TVRI Sulawesi Selatan juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal kembali kekayaan tradisi lisan yang menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
Tema silaturahim, merawat ingatan, dan menjaga hubungan menjadi pengingat bahwa warisan sastra Bugis-Makassar tidak hanya menyimpan keindahan bahasa, tetapi juga mengandung nilai kehidupan yang masih relevan hingga saat ini.
Melalui kolaborasi akademisi dan media penyiaran, pappaseng diharapkan tetap dikenal, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya Sulawesi Selatan.(*)



