LITERASI

Kalau Bukan Kita yang Jaga Tabe’, Siapa Lagi?

Oleh: Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd

Beberapa minggu lalu saya naik pete-pete di Makassar. Di bangku depan duduk seorang mahasiswa dengan headset, volume musiknya tembus ke luar. Di belakangnya ada ibu-ibu tua berdiri sejak Mall Panakkukang. Pemuda itu tidak menoleh. Tidak ada kata “tabe” yang meluncur. Tidak ada permisi, tidak ada geser, tidak ada tatapan minta izin.
Saya diam. Tapi di dalam hati bertanya: sudah sejauh mana kita kehilangan “tabe”?
“Tabe” bagi orang Makassar bukan sekadar kata pembuka. Ia adalah napas. Ia adalah cara kita menghormati ruang orang lain sebelum kita masuk. Ia adalah cara kita mengakui bahwa di hadapan kita ada manusia yang lebih tua, lebih tahu, atau sekadar setara martabatnya. “Tabe” berarti: saya datang dengan adab, bukan dengan arogansi.
Dulu, kata ini diajarkan sejak anak masih belajar bicara. Mau lewat di depan orang, “tabe”. Mau bertanya, “tabe”. Mau memotong pembicaraan, “tabe”. Mau mengambil makanan di piring bersama, “tabe”. Kata itu pendek, tapi isinya panjang. Ia mengajarkan anak tentang batas, tentang rasa, tentang menempatkan diri.
Hari ini, kita hidup di zaman yang serba cepat. Notifikasi datang tiap detik. Komentar dilempar tanpa pikir. Viral dikejar tanpa tanya akibat. Di ruang digital, kita merasa bebas bicara tanpa wajah. Dan di ruang nyata, kita mulai membawa kebiasaan digital itu: serobot, potong, langsung to the point, tanpa basa-basi.
Anak-anak sekarang lebih hafal istilah “skip” daripada “tabe”. Lebih cepat mengetik daripada menunduk. Lebih mahir membuat konten daripada membuat orang lain nyaman. Bukan berarti mereka jahat. Hanya saja, kita lupa memberi mereka contoh bahwa kecepatan tidak boleh mengorbankan adab.
Kampus seharusnya jadi tempat “tabe” paling hidup. Di sinilah orang muda ditempa, bukan hanya otaknya tapi juga jiwanya. Tapi coba perhatikan: berapa banyak mahasiswa yang masuk ruang dosen tanpa mengetuk dan mengucap “tabe”? Berapa banyak yang saat presentasi memotong pembicara senior karena merasa punya data lebih baru? Berapa banyak komentar di media sosial kampus yang tajam, menghakimi, tanpa ada kata pengantar empati?
Saya tidak sedang meromantisasi masa lalu. Saya tahu dunia berubah. Cara berkomunikasi berubah. Etika pun harus beradaptasi. Tapi ada nilai yang tidak boleh kita tukar dengan kecepatan. “Tabe” adalah salah satunya.
Orang sering salah paham. Mengira “tabe” itu lemah. Mengira orang yang banyak “tabe” adalah orang yang tidak punya pendirian. Padahal sebaliknya. Butuh keberanian untuk berhenti sejenak dan memberi ruang. Butuh kekuatan untuk menahan ego demi menghormat. “Tabe” bukan tunduk tanpa alasan. “Tabe” adalah sadar: saya tidak hidup sendiri.
Lihat tari Bosara. Sebelum piring diangkat, penari menunduk. Itu “tabe” dalam bentuk gerak. Sebelum suara keluar, ada jeda. Itu “tabe” dalam bentuk irama. Sebelum tampil, ada persiapan batin. Itu “tabe” dalam bentuk rasa. Kita melatih mahasiswa teknik, wirama, wirupa. Tapi kalau wirasa dan “tabe” tidak dilatih, maka yang lahir hanya penari yang kosong.
Di ruang publik juga sama. Ketika kita berkendara dan ada orang tua menyeberang, “tabe” berarti kita berhenti. Ketika di kelas ada teman yang sedang berjuang bicara di depan, “tabe” berarti kita dengar sampai tuntas. Ketika di media sosial ada perbedaan pendapat, “tabe” berarti kita awali dengan: saya menghargai pendapatmu, boleh saya menambahkan?
Masalahnya, “tabe” tidak bisa diwariskan lewat slide PPT. Ia diwariskan lewat teladan. Anak melihat gurunya mengucap “tabe” saat meminjam pulpen. Mahasiswa melihat dosennya mengucap “tabe” saat mengoreksi tugas. Warga melihat pemimpinnya mengucap “tabe” saat meminta maaf.
Kalau kita menunggu pemerintah membuat program “Gerakan Nasional Tabe”, kita akan menunggu lama. Kalau kita menunggu kurikulum baru memasukkan “tabe” sebagai mata pelajaran, kita akan terlambat. Karena “tabe” hidup di hal-hal kecil, di momen-momen sepele yang tidak pernah masuk RPP.
Maka pertanyaannya kembali ke kita: siapa yang akan mulai?
Mungkin kita. Dosen yang sebelum masuk kelas mengetuk pintu dan tersenyum. Mahasiswa yang sebelum bertanya angkat tangan dan bilang “tabe, Bu”. Seniman yang sebelum tampil menghormat panggung dan penonton. Netizen yang sebelum mengkritik menulis: “tabe, saya ingin berdiskusi”.
“Tabe” tidak akan menyelamatkan ekonomi. Tidak akan menaikkan IPK. Tidak akan membuat video kita FYP. Tapi “tabe” akan menyelamatkan cara kita hidup bersama. Ia akan membuat kota ini lebih ramah. Kampus ini lebih hangat. Rumah ini lebih adem.
Saya ingat pesan seorang guru tua di Gowa. Beliau bilang: “Anakku, orang boleh lupa namamu. Tapi orang tidak akan lupa bagaimana caramu masuk ke dalam hidupnya.” Itu “tabe”.
Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia dalam semalam. Tapi kita bisa mengubah cara kita masuk ke dalam dunia. Dengan “tabe”.
Jadi, kalau bukan kita yang jaga “tabe”, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya membaca “tabe” di buku sejarah, dan bertanya: dulu orang Makassar seperti apa ya, sampai punya kata seindah ini?
Mari kita jawab dengan cara hidup kita hari ini.(*)

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda