Menyambut
HARDIKNAS 2 Mei 2026
KEMBALI KE RUANG SUNYI

Dra. Sitti Dahlia Azis
Guru SMAN 3 Pinrang, Penggerak Literasi Daerah (PLD) Nasional 2025
Hujan bagai nyanyian lembut penyejuk jiwa
Rintiknya turun perlahan menyentuh sukma
Kudengar bisiknya mengalun penuh makna
Menenangkan hati yang lelah dalam nestapa
Mengapa gelisah wahai insan di dunia
Padahal hidup adalah titipan semata
Belajarlah sabar menerima segala
Seperti sungai yang mengalir menuju muara
Yakinkan diri masih ada terang cahaya
Meski langkah kadang letih tanpa arah nyata
Bawalah harapan tumbuh bersama doa
Agar hati tetap kuat menjaga asa
Bila jiwa terasa sunyi dan hampa
Kembalilah bersujud menyebut asma-Nya
Sebab hanya Dia penawar segala lara
Yang memahami isi hati paling rahasia
Puisi I sudah punya ruh yang kuat—teduh, reflektif, dan mengalir lembut.
Di puisi di atas, ada beberapa baris yang rima akhirnya berbeda, misalnya:
sukma
pesannya
bergelora
telaga
“rima akhir sama”, jadi diarahkan dominan ke bunyi -a.
“Biarkan air mengalir dan menemukan telaga”
Larik itu punya imaji yang tenang dan dalam.
Puisi ini terasa seperti percakapan batin dengan diri sendiri dan dengan Tuhan. Itu kekuatannya.
Telaga, ini inti pesannya. Menemukan cermin dan kesejukan.
Kalau ingin puisi mengalir bebas tentu sudah sesuai ruhnya.
Kata #telaga di situ bukan sekadar penutup bunyi, tetapi pusat makna. Ada rasa teduh, tempat air berhenti dari deras arus, lalu menjadi cermin yang bening dan menenangkan. Itu simbol yang kuat sekali.
Jadi ketika Sitti Dahlia Azis menulis:
“Biarkan air mengalir dan menemukan telaga”
larik itu terasa seperti ajakan untuk tidak terus melawan hidup, melainkan menuju ketenangan batin dan kejernihan jiwa. Ada nuansa pasrah yang matang di sana.
Kalau demikian, puisi I memang lebih cocok sebagai puisi bebas yang mengalir mengikuti ruh perenungan, bukan dikunci ketat oleh kesamaan rima. Justru perbedaan bunyi akhirnya memberi kesan alami, seperti aliran air yang tidak dipaksa seragam.
Dan penulis suka bagian ini juga:
“Bila hati terasa kosong, kembalilah pada asma-Nya”
Sederhana, tetapi hangat dan spiritualnya sampai.
Alhamdulillah.
Suasana hujan deras merembes masuk lewat jendela. Kenyataan sekarang
Hujan memang sering membawa ruang sunyi sendiri ya, sahabatku. Suara derasnya di jendela seperti mengetuk pelan pikiran dan kenangan. Kadang justru dari suasana begitu lahir larik-larik yang paling jujur.
Sahabat bisa membayangkan penulis duduk mendengar air merembes masuk, lalu kata telaga itu muncul bukan sekadar imajinasi, tetapi benar-benar terasa hidup dalam batin. Dari hujan yang gaduh, manusia mencari teduh. Dari deras yang jatuh, hati ingin menemukan genangan tenang tempat bercermin.
Bahkan puisi ini akan terasa makin kuat jika dibaca bersama suasana itu—hujan di luar, ruang sunyi di dalam.
Sahabatku.
Ada syukur setelah 2 malam hp mandeg. Anak membawanya ke kota untuk service, tetapi ragu jika uangnya tidak cukup. Bunda minta kembalikan hpnya. Bunda mau scan barcode di wa di komputer.
Alhamdulillah. Setelah pakai charge lain … full. Semoga bertahan hingga 2 Mei 2026 dan lebih bersyukur jika masih bisa lanjut ke Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026.
SEMUA ORANG
Rupanya Allah punya rahasia dan tetap memberi cahaya untuk langkah ke depan. Syukran.
Masya Allah, ternyata di balik rasa khawatir itu sudah disiapkan jalan yang lebih baik, sahabatku.
Kadang kita sudah membayangkan kerusakan besar, biaya besar, bahkan hati ikut berat memikirkannya. Ternyata yang dibutuhkan hanya hal sederhana—ganti charger. Dan uang yang tadinya disiapkan untuk servis malah menjadi manfaat lain untuk kebutuhan mendesak. Itu terasa seperti cara Allah menjaga rezeki agar jatuh di tempat yang lebih diperlukan saat itu.
Saya juga bisa merasa lega: HP kembali normal, komunikasi tetap berjalan, dan ada rasa syukur karena tidak jadi menambah beban. Hal-hal kecil begini sering diam-diam menjadi “cahaya” yang tadi saya tulis dalam puisi itu. Cahaya bukan selalu hal besar, kadang berupa solusi sederhana yang datang tepat waktu.
Dan menariknya, pengalaman ini selaras sekali dengan larik:
“Biarkan air mengalir dan menemukan telaga”
Saat tidak dipaksakan dalam kepanikan, akhirnya mengalir ke penyelesaian yang lebih baik.
Itulah yang kadang tidak kita sadari sehingga berkurang rasa syukur, padahal nikmat Allah itu akan datang saat kita membutuhkannya.
Sering kali manusia baru sadar setelah badai kecil itu lewat. Saat masih cemas, pikiran mudah dipenuhi kemungkinan buruk, sampai lupa bahwa pertolongan bisa datang dari arah yang sederhana dan tidak disangka.
Nikmat itu kadang tidak hadir dalam bentuk kemewahan, tetapi dalam “cukup pada waktunya”. Charger pengganti yang ternyata bekerja baik, uang yang akhirnya bisa dipakai untuk kebutuhan anak, hati yang kembali tenang—itu semua bentuk kasih sayang yang halus.
Ada orang yang hidup dengan banyak hal, tetapi hatinya selalu merasa kurang. Ada juga yang diuji sedikit kesulitan, lalu setelahnya mampu berkata “Alhamdulillah” dengan sungguh-sungguh. Dan rasa syukur seperti itu biasanya membuat hati lebih lapang.
Percakapan batin (Senandika) ini malah terasa seperti lanjutan puisi tadi—tentang hujan, cahaya, dan telaga. Bahwa setelah gelisah, hati diajak kembali jernih untuk melihat bahwa pertolongan-Nya sering sudah dekat, hanya mata kita yang kadang tertutup cemas.
Sahabatku.
Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur.
Aamiin ya Rabb. Semoga kita diberi hati yang lembut untuk mengenali nikmat-nikmat kecil sebelum kehilangan, dan diberi kelapangan untuk tetap bersyukur bahkan di tengah keadaan yang belum sempurna.
Kadang syukur itu bukan karena hidup tanpa masalah, melainkan karena masih ada kekuatan untuk melangkah, masih ada jalan keluar, masih ada orang-orang yang disayangi, dan masih ada cahaya harapan yang Allah titipkan di hati.
Malam hujan begini cocok sekali untuk menikmati rasa syukur yang tenang—bukan riuh, tetapi hangat. Semoga rumah kita tetap nyaman, hati teduh, dan dari ruang sunyi itu lahir lagi tulisan-tulisan indah yang menenangkan banyak jiwa.
Aamiin ya rabbal alamiin
Dialog sederhana, ini juga ada di Ruang Sunyi.
Dan justru dialog sederhana seperti ini sering menjadi isi paling jujur dari “Ruang Sunyi”.
Bukan percakapan yang hingar-bingar, melainkan bisikan hati tentang syukur, cemas, hujan, anak, harapan, dan cara Allah menghadirkan pertolongan lewat hal-hal kecil. Dari situ ruh kehidupan terasa nyata.
Kalau kelak diberi kesehatan dan kesempatan bunda akan menuliskannya dalam Jejak Literasi di Ruang Sunyi, pembaca mungkin akan merasa dekat karena yang hadir bukan hanya kata-kata indah, tetapi pengalaman batin yang hidup. Ada keteduhan di dalamnya.
Dan malam ini, hujan di luar jendela seperti menjadi saksi kecil bahwa ruang sunyi tidak selalu sepi—kadang ia penuh doa dan rasa syukur.
Insyaallah. Kita akan terus menginspirasi. Bersahabat dengan alam dan makhluk Allah sambil meng-Agungkan nama-Nya.
Niat yang indah ini —menjadi jalan kebaikan lewat kata, sikap, dan rasa syukur kepada-Nya.
Bersahabat dengan alam membuat hati belajar rendah hati. Dari hujan kita belajar menenangkan, dari angin belajar bergerak tanpa sombong, dari telaga belajar memantulkan kejernihan. Dan ketika semua itu dikembalikan untuk mengagungkan Allah, tulisan tidak hanya menjadi rangkaian kata, tetapi juga jejak dzikir dalam kehidupan.
Saya rasa ruh itu sudah terasa dalam karya-karya Jejak Literasi di Ruang Sunyi—hening, reflektif, dekat dengan alam, namun tetap mengarah pada cahaya Ilahi. Semoga langkah ini terus diberi kekuatan, kesehatan, dan keberkahan untuk menulis serta menginspirasi banyak jiwa. 🤲🏼✨
Jazakallahu khairan katsira 🤝
Semoga setiap tetes hujan yang menemani malam ini menjadi pengingat bahwa rahmat Allah selalu turun, kadang lembut, kadang deras, tetapi selalu membawa makna bagi hati yang mau merenung.
Mari sahabatku.
Tetaplah menulis, menjaga cahaya di ruang sunyi, dan menebarkan keteduhan lewat kata-kata.
Pinrang, 29 April 2026
