Jurnalistik SMAN 3 Pinrang: Membangun Identitas Visual

Dra. Sitti Dahlia Azis. Pembina Eschool Jurnalistik SMAN 3 Pinrang
Kadang bukan jumlahnya dulu yang penting, tetapi keberanian memulai. Jurnalistik SMAN 3 Pinrang dalam acara Lomba Menulis Pantun dan Desain Canva telah menampilkan atribut kebanggaannya.
Empat rompi pertama itu malah bisa menjadi “angkatan perintis.”
Apalagi kalau dipakai saat PMB/MPLS, efeknya besar sekali karena adik-adik kelas baru langsung melihat bahwa:
jurnalistik itu aktif,
punya identitas,
kompak,
dan terlihat keren.
Biasanya siswa baru cepat tertarik pada ekskul yang:
terlihat hidup,
punya ciri khas,
dan tampak percaya diri.
Dan rompi itu bisa menjadi simbol kuat.

Bayangkan saat MPLS:
ada tim dokumentasi memakai rompi jurnalistik,
membawa kamera atau HP dokumentasi,
membantu publikasi,
mengatur liputan kegiatan.
“Wah… aura organisasinya langsung terasa profesional.
Saya malah merasa ini strategi yang bagus tanpa disadari: anak-anak sedang membangun branding ekskulnya sendiri.
Nanti mungkin akan muncul:
adik kelas yang ingin ikut,
siswa yang tertarik desain,
yang suka menulis,
atau yang suka dunia media sosial dan dokumentasi”. kata Sitti Dahlia Azis sebelum acara dimulai.
Dan lucunya, biasanya ekskul mulai berkembang pesat justru setelah punya identitas visual seperti:
rompi,
logo,
banner,
atau akun publikasi aktif.

Karena anak-anak SMA sekarang sangat peka pada tampilan dan atmosfer komunitas.
Empat rompi itu (dipakai oleh Ketua: Qonita Abida A, Wakil ketua: Siti Sandra Muktavia, Sekertaris: Refni Muslimah dan Bendahara: Nur Atikah mungkin terlihat sederhana sekarang, tetapi bisa menjadi awal lahirnya kultur jurnalistik yang kuat di SMAN 3 Pinrang.
“Logo ekskul dipasang di seragam:
siswa merasa memiliki identitas,
ekskul terlihat resmi,
dan rasa bangga terhadap komunitas ikut tumbuh.
Ini penting sekali di usia SMA.
Anak-anak senang merasa menjadi bagian dari “tim” atau “keluarga” tertentu.
Jadi ketika:
jurnalistik punya logo, rompi,
dan identitas visual, itu bukan sekadar atribut, tetapi pembentuk karakter organisasi.
Dan bagusnya lagi, kalau semua eschool juga memiliki logo masing-masing, berarti sekolah memberi ruang agar tiap ekskul berkembang dengan ciri khasnya sendiri. Itu sehat sekali untuk kehidupan organisasi siswa.
Untuk jurnalistik sendiri, identitas seperti ini sangat mendukung karena dunia jurnalistik memang dekat dengan:
branding,
visual,
publikasi,
dan citra organisasi.
Terbayang nanti saat MPLS:
anak-anak jurnalistik memakai rompi,
logo terlihat di seragam,
bergerak mendokumentasikan kegiatan,
lalu hasil liputannya dipublikasikan.
Wah… adik kelas pasti langsung mengenali:
“Oh, itu kakak-kakak jurnalistik.”
Dan dari situlah biasanya regenerasi mulai terbentuk alami.
Guntur, S.Pd., M.Pd selaku Kepala UPT SMAN 3 Pinrang dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya “Yang menarik, sekarang jurnalistik SMAN 3 Pinrang tidak lagi hanya dikenal lewat tulisan, tetapi juga lewat identitas visual dan kekompakan anggotanya. Itu tanda organisasi mulai matang” Ibu Dahlia (Dra. Sitti Dahlia Azis) sudah punya banyak buku karya. Bersyukur sekolah ini sudah punya pembina jurnalistik yang telah sampai ke tingkat nasional. Silakan anak-anakku manfaatkan Taman Literasi To Macca yang sedang dicat di depan perpustakaan kita.”
Kesempatan berikutnya, sepatah kata dan harapan dari pembina E School Jurnalistik/Sanggar Literasi CERIA SMAN 3 Pinrang, Dra. Sitti Dahliah, dikenal di medsos dengan nama Sitti Dahlia Azis atau Bunda Siti,
“Semoga dari jurnalistik tumbuh jiwa muda yang cerdas, tangguh, berkarakter. Acara ini dilaksanakan bukan semata soal lomba dan juara. Tetapi melalui kegiatan seperti ini kita ingin membangun kebersamaan dan mencari bibit unggul.”
Indah sekali. Karena jurnalistik memang bukan hanya melatih menulis, tetapi juga:
keberanian berpikir,
ketajaman melihat keadaan,
tanggung jawab terhadap informasi,
dan kepekaan terhadap lingkungan.
Dan slogan sekolah Bunda kuat sekali maknanya:
SMANTAP
Sekolah MAju iNovatif dAn Prestisius
Terasa progresif dan penuh semangat berkembang.
Lalu dipadukan dengan:
CERIA
Cerdas, Ramah, Indah, dan Bahagia
Nah ini yang membuat suasananya hangat dan manusiawi.
Tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga membangun lingkungan yang nyaman dan membahagiakan siswa.
Kalau dipikir-pikir, jurnalistik memang cocok berada di bawah semangat CERIA:
Cerdas dalam berpikir dan menulis,
Ramah dalam berkomunikasi,
Indah dalam karya dan diksi,
Bahagia dalam proses berkarya bersama.
“Saya merasa anak-anak itu sedang tumbuh dalam suasana yang baik:
diberi ruang,
dipercaya,
dibimbing,
dan diapresiasi.” kata Muhammad Takdir, S.Pd (Wakasek kesiswaan).
“Itulah yang sering melahirkan generasi kuat.
Bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga punya jiwa, karakter, dan keberanian berkarya untuk almamaternya.” ucap Pak Takdir menutup sambutannya.
Selanjutnya acara pembacaan 10 pantun religius oleh seorang peserta dilanjutkan dengan penyerahan naskah lomba pantun dan desain Canva kepada dewan juri yang diwakili oleh Muhammad Tahir, S.Pd., Gr dan Herman Yunus, S.Pd. Ditutup dengan foto bersama dan makan bersama para peserta sebagai dokumentasi. ***



