UNM HADIRKAN “SANGGAR MASUK KAMPUS” UNTUK PERKUAT INTERNALISASI BUDAYA BUGIS-MAKASSAR MELALUI PEMBELAJARAN TARI

Oleh: Nurachmy Sahnir, S.Pd., M.Pd (Dosen FSD UNM)
Program Kemitraan Masyarakat (PKM) PNBP Pusat Kompetitif Tahun 2026
Makassar— Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) PNBP Pusat Kompetitif Tahun 2026 menghadirkan program “Sanggar Masuk Kampus” untuk memperkuat internalisasi nilai-nilai budaya lokal Bugis-Makassar melalui pembelajaran tari tradisional bagi mahasiswa Pendidikan Sendratasik.
Kegiatan ini juga menghadirkan Hj. St. Maryam, S.Pd., pakar seni tari tradisional Bugis-Makassar sekaligus Pembina Yayasan Sanggar Seni Katangka Gowa, sebagai narasumber dan pendamping dalam proses pembelajaran. Kehadiran narasumber memberikan penguatan pada aspek praktik, pemaknaan gerak, serta pemahaman nilai-nilai budaya yang melekat dalam seni tari tradisional Bugis-Makassar.
Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi antara tim pelaksana PKM UNM Bersama dosen Bau Salawati, S.Pd., M.Sn. dan Yayasan Kesenian Katangka Gowa sebagai mitra. Kegiatan ini menjembatani pembelajaran seni tari di perguruan tinggi dengan praktik budaya yang hidup di masyarakat, sehingga mahasiswa tidak hanya menguasai aspek teknis tari, tetapi juga memahami dan menghayati nilai budaya dalam proses pembelajaran seni.
Ketua tim pelaksana, Nurachmy Sahnir, S.Pd., M.Pd., bersama anggota tim Dr. Sri Darmawati Munir, S.Pd., M.Pd., dan Prof. Dr. Jamilah, M.Sn., mengembangkan program yang menempatkan seniman sanggar sebagai tutor dalam proses pembelajaran. Tim juga melibatkan Sarmianti Ansar, S.Sn., M.Pd., serta mahasiswa sebagai bagian dari pelaksanaan program.
Program ini berangkat dari kebutuhan untuk mengatasi pembelajaran tari yang cenderung menekankan penguasaan gerak, pola lantai, dan koreografi. Melalui pendekatan experiential learning, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung melalui praktik tari, demonstrasi seniman, diskusi reflektif, mentoring, dan penghayatan terhadap nilai budaya lokal, serta makna simbolik gerak.
Sebanyak 25 mahasiswa menjadi peserta utama program. Pelaksanaan kegiatan dirancang secara bertahap melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan inovasi pembelajaran, pendampingan dan evaluasi, hingga penguatan keberlanjutan program. Monitoring kehadiran dan perkembangan peserta menjadi bagian penting dalam evaluasi kegiatan.
Selain praktik pembelajaran, program menghasilkan perangkat pendukung berupa modul pembelajaran tari berbasis nilai budaya lokal, instrumen evaluasi pembelajaran, video model “Sanggar Masuk Kampus”, serta digitalisasi arsip pembelajaran. Perangkat tersebut diharapkan dapat digunakan secara berkelanjutan oleh dosen, mahasiswa, dan mitra sanggar.
Kehadiran seniman dalam ruang pembelajaran kampus menjadi salah satu kekuatan utama program. Mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan pelaku budaya, mempelajari teknik tari sekaligus memahami konteks sosial dan makna budaya yang melekat pada praktik seni tradisional.
Program “Sanggar Masuk Kampus” juga memperkuat posisi sanggar sebagai mitra pendidikan formal. Kolaborasi ini diharapkan dapat berkembang menjadi model pembelajaran seni berbasis komunitas yang dapat direplikasi pada konteks pendidikan seni lainnya.
Melalui program tersebut, UNM menegaskan komitmennya dalam memperkuat pendidikan berkualitas berbasis budaya lokal sekaligus mendukung pelestarian seni tradisional Bugis-Makassar. Integrasi antara pengalaman langsung, refleksi, dokumentasi, dan evaluasi diharapkan mampu membentuk calon pendidik seni yang memiliki kompetensi artistik sekaligus kesadaran budaya.(*)



