Opini

MENGAJAR YANG MENYENANGKAN BUKAN BERARTI HARUS JOGET

Dra. Sitti Dahlia Azis – Guru SMAN 3 Pinrang

Menanggapi metode deep learning atau pembelajaran mendalam dan menyenangkan, kita sebagai guru sebaiknya tetap tanggap dan bernalar kritis.
Pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti kelas harus selalu diubah menjadi panggung hiburan. Agar siswa peduli, aktif, dan suasana proses belajar mengajar (PBM) tetap kondusif, tidak menjenuhkan, tentu dibutuhkan kreativitas guru.
Interaksi dan komunikasi yang baik antara guru dan siswa perlu dibangun. Guru dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui berbagai metode, tanpa harus menghilangkan esensi dari materi pelajaran.
Yang dibutuhkan adalah kreativitas guru, bukan kewajiban untuk berjoget.
Metode pembelajaran tentu perlu disesuaikan dengan mata pelajaran dan karakter materi yang diajarkan.
Sebagai contoh, saya mengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Sebelum memulai diskusi kelompok, saya meminta masing-masing kelompok menyiapkan sebuah lagu nasional. Kegiatan sederhana ini dapat membangun semangat kebangsaan sekaligus menciptakan suasana kelas yang lebih hidup.
Pada materi bertema Bhinneka Tunggal Ika, saya menghubungkannya dengan kearifan lokal Bugis, seperti Sipakatau, Sipakalebbi’, Sipakamase, Sipakainge’, dan Mali’ Siparappe.
Materi tersebut kemudian dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok membuat skenario drama pendek yang menggambarkan nilai-nilai tersebut. Ada pula siswa yang bertugas mendokumentasikan kegiatan.
Lalu, bukankah kegiatan seperti ini juga merupakan bentuk pembelajaran yang menyenangkan?
Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat melatih kerja sama, komunikasi, kreativitas, tanggung jawab, keberanian tampil, kemampuan bernalar, dan pembentukan karakter siswa.
Guru mata pelajaran lain tentu memiliki ide dan kreativitas masing-masing. Guru Bahasa Indonesia dapat menggunakan karya sastra, guru Seni dapat menggunakan karya seni, guru IPA dapat menggunakan eksperimen, guru Matematika dapat menggunakan permainan logika, dan berbagai pendekatan lain sesuai karakter mata pelajaran.
Jadi, pembelajaran yang menyenangkan tidak memiliki satu bentuk yang seragam.
Tidak semua kelas harus bernyanyi. Tidak semua materi harus dibuat permainan. Dan tentu saja, tidak semua pembelajaran menyenangkan harus diisi dengan joget.
Yang terpenting adalah bagaimana siswa terlibat, memahami makna pembelajaran, mampu menghubungkan materi dengan kehidupan nyata, serta memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
Guru bukan sekadar penghibur di depan kelas.
Guru adalah perancang pengalaman belajar.
Maka, mari kita maknai pembelajaran mendalam secara lebih utuh: mendalam dalam berpikir, menyenangkan dalam proses, bermakna dalam pengalaman, dan berkarakter dalam hasilnya.
Pinrang, 29 Agustus 2026

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda