Opini

3K SANG PENDIDIK: KOMITMEN, KONSISTEN, KONSEKWEN

Oleh: Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd (Dosen FSD UNM)

Menjadi guru atau dosen itu bukan sekadar profesi. Ia adalah persetujuan panjang yang kita buat, kadang tanpa sadar, dengan masa depan orang lain. Di dalam kelas ada 30, 40, bahkan 100 mimpi yang sedang menunggu disentuh. Dan di tengah segala tuntutan administrasi, tren pembelajaran, dan dinamika mahasiswa, ada tiga kompas yang membuat kita tetap tahu arah: Komitmen, Konsisten, Konsekwen.

Komitmen adalah titik kita memutuskan “saya mau mengajar”. Bukan hanya mengajar karena jadwal, bukan hanya karena butuh SKP. Komitmen itu ketika kita tetap menyiapkan RPS walau semalam begadang. Ketika kita membaca satu jurnal lagi walau materi tahun lalu masih bisa dipakai. Komitmen seorang pendidik adanya di ruang paling sunyi: saat tidak ada mahasiswa yang melihat, saat tidak ada atasan yang menilai. Di sanalah kita bertanya pada diri: apakah saya masih mau jadi jembatan bagi orang lain untuk menyeberang ke versi dirinya yang lebih baik.

Tapi komitmen saja tidak cukup. Karena semangat awal itu mudah pudar. Bertemu mahasiswa yang pasif, bertemu sistem yang kadang tidak adil, bertemu lelah yang menumpuk. Di titik inilah Konsisten diuji.

Konsisten itu hadir 10 menit lebih awal walau macet. Menegur dengan cara yang sama baik ke mahasiswa yang pintar maupun yang sering terlambat. Memberi feedback tugas tidak hanya saat mau nilai akhir. Konsisten itu membosankan, saya tahu. Mengulang penjelasan yang sama untuk kelas yang berbeda. Mengoreksi format sitasi yang itu-itu lagi. Tapi dari pengulangan itulah karakter terbentuk. Mahasiswa tidak belajar dari satu kuliah kita yang paling heboh. Mereka belajar dari apa yang kita lakukan setiap minggu. Dari cara kita menghargai waktu. Dari cara kita menepati janji “tugas akan saya kembalikan minggu depan”.

Dunia pendidikan sekarang penuh distraksi. Ada AI yang bisa jawab soal dalam 3 detik. Ada konten 15 detik yang lebih menarik dari slide kita. Kalau kita tidak konsisten, kita akan kalah cepat. Bukan kalah saing dengan teknologi, tapi kalah dengan kebiasaan kita sendiri untuk menunda dan mengompromikan standar.

Lalu ada satu kata yang paling berat: Konsekwen.

Konsekwen artinya berani hidup sesuai dengan apa yang kita ajarkan. Kita bilang ke mahasiswa “jujur itu penting”, maka kita juga tidak menoleransi plagiasi walau itu anak favorit. Kita bilang “disiplin waktu”, maka kita juga mematikan HP saat mengajar. Kita bilang “belajar itu proses”, maka kita juga mau dikritik dan mau belajar hal baru dari mahasiswa.

Konsekwen itu sakit. Karena ia memaksa kita memilih. Memilih menegur di depan umum itu tidak nyaman. Memilih memberi nilai jujur itu berisiko tidak disukai. Memilih menolak proyek tambahan demi menyiapkan pembelajaran yang lebih baik itu berarti menolak uang. Tapi tanpa konsekwen, semua ajaran kita jadi gugur. Mahasiswa paling cepat membaca inkonsistensi. Mereka tidak mendengar apa yang kita ucapkan. Mereka meniru apa yang kita lakukan.

Tiga K ini bekerja seperti napas. Komitmen itu tarikan napas pertama saat kita memutuskan jadi pendidik. Konsisten itu napas yang kita jaga setiap hari agar tidak terengah. Konsekwen itu napas panjang yang membuat kita tetap tegak saat badai kritik datang.

Lihat guru SD yang 20 tahun mengajar di desa. Mungkin tidak pernah viral. Tapi komitmennya menyalakan lampu, konsistennya datang tiap pagi, konsekwennya tidak membeda-bedakan anak. Lihat dosen yang mahasiswanya lulus lalu jadi peneliti. Bukan karena satu ceramahnya. Tapi karena tiap bimbingan dia konsisten hadir, dan konsekwen menantang ide yang lemah.

Buat kita di kampus, di sekolah, di sanggar, tantangannya sama. Godaan untuk “asal jalan” itu besar. Godaan untuk “yang penting absen” itu ada. Godaan untuk “biarlah, nanti juga ada yang ngajarin” itu nyata.

Maka mari kembali ke 3K. Tanyakan di awal semester: apa komitmen saya untuk kelas ini? Di tengah semester: apakah saya masih konsisten dengan cara mengajar yang saya janjikan? Di akhir semester: apakah saya konsekwen memberi penilaian yang adil, meski tidak populer?

Hasilnya tidak akan langsung kelihatan. Pendidikan itu menanam. Kita menyiram, tapi yang menumbuhkan adalah waktu. Mungkin 5 tahun dari sekarang ada mahasiswa yang tiba-tiba bilang, “Bu, dulu ibu pernah bilang satu kalimat ini dan saya ingat sampai sekarang”. Saat itulah kita tahu, konsisten dan konsekwen kita tidak sia-sia.

Karena pada akhirnya, mahasiswa tidak akan mengingat semua materi kita. Tapi mereka akan mengingat bagaimana rasanya belajar dengan kita. Apakah rasanya aman, adil, dan menghidupkan.

Dan rasa itu hanya bisa lahir dari seorang pendidik yang punya Komitmen di hati, Konsisten di langkah, dan Konsekwen di tindakan.(*)

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda