Opini

Hebat Sendiri: Penyakit Zaman Validasi Sosial

Oleh: Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd (Dosen FSD UNM)

Di zaman semua orang bisa like, komen, dan share, lahirlah satu penyakit baru: merasa hebat sendiri. Ia tidak butuh resep dokter. Ia tumbuh dari notifikasi, dari sorotan, dari rasa ingin selalu jadi pusat perhatian. Bukan karena prestasinya luar biasa, tapi karena cara dia memandang dirinya. Di kepalanya, dia tokoh utama. Yang lain figuran, penonton, atau kompetitor yang harus dikalahkan.
Cirinya mudah dikenali. Selalu merasa paling tahu, paling benar, paling berjasa. Ketika ada pendapat berbeda, ia tidak mendengarkan untuk memahami. Ia mendengarkan hanya untuk mencari celah membantah. Ketika orang lain dipuji, ia cepat mengalihkan ke pencapaian dirinya. Ketika ada masalah, penyebabnya selalu orang lain. Ketika ada keberhasilan, kreditnya selalu untuk dirinya. Bahasa yang dipakai terdengar rasional. “Ini standar tinggi”, “aku hanya tidak mau kompromi dengan yang salah”, “aku realistis”. Padahal isinya tetap sama: aku di atas, kalian di bawah.
Akar penyakit ini beragam. Sebagian tumbuh dari lingkungan yang terlalu sering memuji tanpa memberi cermin. Sejak kecil selalu jadi anak emas, selalu juara, selalu didengarkan, lalu kebiasaan itu dibawa sampai dewasa. Sebagian lagi justru kebalikannya. Karena pernah merasa tidak dianggap, maka saat akhirnya dapat panggung ia berpegangan terlalu erat dan tidak mau melepas.
Tapi pemicu terbesar hari ini adalah validasi sosial. Algoritma media sosial memberi hadiah instan: satu posting viral, seratus like, ribuan views. Otak kita mencatat itu sebagai bukti bahwa kita benar. Semakin sering divalidasi, semakin sulit menerima koreksi. Lama-lama muncul ilusi bahwa opini pribadi adalah kebenaran universal. Ditambah budaya membandingkan. Lihat pencapaian orang, merasa harus lebih. Lihat kritik, merasa harus membela diri. Lihat diam, merasa harus mengisi. Akhirnya yang tumbuh bukan kedewasaan, tapi kebutuhan untuk selalu terlihat paling.
Dampaknya terasa di mana-mana. Di tempat kerja, diskusi jadi satu arah. Ide orang lain dipotong. Masukan dianggap serangan pribadi. Tim lama-lama hanya berisi orang yang mengangguk. Inovasi mati, karena tidak ada ruang untuk diuji. Di pertemanan, hubungan jadi tidak setara. Cerita orang lain dipotong untuk kembali ke cerita dirinya. Masalah orang lain dianggap kecil dibandingkan masalahnya. Empati ada, tapi terbatas untuk dirinya sendiri.
Di ruang publik, penyakit ini lebih berbahaya. Orang merasa berhak mengguruI, menghakimi, dan membatalkan orang lain hanya karena merasa paling benar. Padahal dunia tidak bekerja dengan cara itu. Masalah besar tidak selesai dengan satu suara paling keras. Ia selesai dengan banyak kepala yang mau mendengarkan.
Lalu bagaimana menyembuhkannya? Pertama, kita harus jujur bahwa semua orang punya potensi ke sana. Tidak ada yang kebal dari rasa ingin diakui. Bedanya, ada yang sadar dan mengatur, ada yang membiarkan dan membesar. Mengakui bahwa kita bisa salah bukan kelemahan. Itu tanda kita masih mau belajar. Orang yang benar-benar hebat tidak sibuk mengumumkan kehebatannya. Ia sibuk mengerjakan hal yang membuatnya bertumbuh.
Kedua, kita butuh lingkungan yang berani memberi cermin. Teman, pasangan, rekan kerja yang tidak hanya memuji tapi juga menegur. Yang berani bilang “eh ini agak berlebihan” atau “coba dengarkan dulu”. Cermin itu tidak nyaman, tapi penting. Tanpa itu, kita bisa berjalan jauh ke arah yang salah sambil merasa paling benar.
Ketiga, latih rasa ingin tahu yang lebih besar dari rasa ingin menang. Ketika berdiskusi, tujuannya bukan membuktikan siapa paling pintar. Tujuannya adalah mencari kebenaran bersama. Ketika dipuji, arahkan juga apresiasi ke orang lain yang ikut bekerja. Ketika gagal, ambil bagian tanggung jawabnya. Jangan lempar semua. Hal-hal kecil seperti ini melatih ego untuk tidak mendominasi.
Kehebatan yang bertahan bukan yang diteriakkan. Ia terlihat dari cara kita memperlakukan orang, dari cara kita menerima kritik, dari cara kita memberi tempat bagi orang lain tumbuh. Mungkin kita tidak akan jadi tokoh utama di setiap cerita. Tapi kita bisa jadi orang yang membuat cerita orang lain menjadi lebih baik.
Di zaman validasi sosial ini, pilihan ada di tangan kita. Mau terus haus sorotan, atau mau jadi pribadi yang cukup. Dan cukup, jauh lebih hebat daripada merasa hebat sendiri.(*)

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda