Inspirasi

Perempuan Merawat Peradaban di Dua Ruang

Oleh: Sudarmin Tandi Pora’, MtsN 1 Tana Toraja

Setiap peradaban besar tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari nilai, dibentuk oleh pendidikan, dan dijaga oleh tangan-tangan yang sering kali bekerja dalam sunyi. Dalam konteks ini, perempuan hadir sebagai simpul penting, merawat peradaban dari dua ruang yang berbeda namun saling terhubung: ruang domestik dan ruang publik.

Di ruang domestik, perempuan terutama sebagai ibu memainkan peran fundamental sebagai pendidik pertama. Dari rahim keluarga, nilai-nilai dasar kehidupan ditanamkan: tentang benar dan salah, tentang empati dan tanggung jawab, tentang iman dan kemanusiaan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dalam keluarga. Di sinilah perempuan menjadi fondasi yang kerap tak terlihat, tetapi menentukan arah masa depan.

Perspektif ini sejalan dengan pandangan Maria Montessori yang menekankan pentingnya lingkungan awal yang kondusif bagi tumbuh kembang anak. Lingkungan tersebut bukan hanya soal fasilitas, tetapi terutama relasi yang hangat, konsisten, dan penuh kesadaran dari orang tua. Dalam banyak kasus, perempuanlah yang mengambil peran dominan dalam membangun ekosistem awal ini.

Namun, perempuan hari ini tidak hanya berada di ruang domestik. Ia juga hadir di ruang publik sebagai pendidik, profesional, dan agen perubahan. Di sekolah, ia menjadi guru yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan menanamkan nilai. Di masyarakat, ia berkontribusi dalam berbagai lini dari pendidikan nonformal hingga gerakan sosial yang memperkuat literasi dan kesadaran kolektif.

Di titik inilah muncul realitas yang tidak sederhana. Perempuan dituntut untuk mampu merawat dua ruang sekaligus, sering kali tanpa distribusi beban yang adil. Budaya patriarki yang masih mengakar menjadikan tanggung jawab domestik tetap melekat kuat pada perempuan, bahkan ketika ia telah berkontribusi secara signifikan di ruang publik. Akibatnya, perempuan memikul beban berlapis bukan hanya soal waktu dan tenaga, tetapi juga ekspektasi sosial yang sering kali kontradiktif.

Penelitian dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perempuan Indonesia, termasuk yang bekerja, tetap menjadi penanggung jawab utama pekerjaan rumah tangga. Sementara itu, laporan UNICEF menegaskan bahwa kualitas pengasuhan di dalam keluarga memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif dan sosial anak. Dua fakta ini menegaskan satu hal: perempuan berada pada titik strategis sekaligus rentan dalam ekosistem pendidikan.Ironisnya, di tengah kontribusi yang demikian besar, perempuan masih kerap dihadapkan pada stigma sosial. Perempuan yang berkarier dituntut untuk tetap “sempurna” dalam urusan rumah tangga. Sebaliknya, perempuan yang memilih fokus di rumah sering kali direduksi sebagai tidak produktif, bahkan ketika ia mengemban peran vital dalam mendidik generasi. Dikotomi ini tidak hanya tidak adil, tetapi juga mengabaikan kompleksitas realitas yang dihadapi perempuan.

Padahal, merawat peradaban tidak selalu harus terlihat dalam bentuk capaian-capaian yang kasat mata. Ia bisa hadir dalam kesabaran mendampingi anak belajar, dalam ketelatenan membangun karakter, atau dalam kehadiran yang konsisten di tengah keluarga. Pada saat yang sama, ia juga hadir dalam dedikasi mengajar di kelas, dalam inovasi di dunia kerja, dan dalam kontribusi nyata bagi masyarakat.Dengan demikian, persoalan utama bukanlah pada pilihan perempuan apakah ia berada di ruang domestik atau publik, melainkan pada bagaimana masyarakat memaknai dan menghargai kedua ruang tersebut. Selama kerja domestik terus dipandang sebagai “sekunder” dan kerja publik sebagai “utama”, maka ketimpangan akan terus berlangsung.

Di era yang semakin kompleks ini, diperlukan kesadaran baru bahwa pendidikan generasi adalah tanggung jawab kolektif. Laki-laki dan perempuan perlu berbagi peran secara lebih adil, sementara institusi sosial dan negara perlu menghadirkan kebijakan yang mendukung keseimbangan tersebut. Tanpa itu, perempuan akan terus berada dalam tekanan yang tidak proporsional.

Perempuan hari ini tidak hanya sedang menjalani peran, tetapi juga melakukan negosiasi antara harapan dan kenyataan, antara tuntutan dan keterbatasan. Dalam proses itu, ia tetap merawat peradaban, sering kali tanpa sorotan, namun dengan dampak yang nyata.

Dan mungkin, justru dalam kesenyapan itulah peradaban dijaga, oleh perempuan yang setia merawat dua ruang sekaligus, dengan keteguhan yang tidak selalu terlihat, tetapi selalu terasa.

Selamat Hari Kartini ..teruslah berdampak untuk generasi yang lebih baik !!!

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda