Opini

POSITIF THINGKING AGAR JIWA TENANG

Oleh: Sitti Dahlia Azis (Guru SMAN 3 Pinrang)

Kehidupan ini begitu indah!

Tak ingin aku hanyut oleh derasnya gelombang rasa … walau terluka oleh tajamnya cadas. Bahtera tetap melaju meski di depan ada karang. Sesak memang terasa menyesakkan bisa dihadapkan pada masalah yang pelit. Maka beristighfarlah. Masih banyak nikmat Allah yang belum tersentuh ucapan syukur.

Baca Juga

Derasnya gelombang semoga menjadi seni yang mewarnai lukisan hati … cadas yang melukai semoga menjadi cambuk untuk dapat sedikit bergeser ke tempat yang aman. Bahtera yang mengarungi samudera harus tetap kuat dan bertahan hingga mencapai ujung Utara … sesekali berhenti untuk mengetahui arah angin dan memasang kompas dengan baik.

Kompas kehidupan adalah akidah yang berbarengan ketaqwaan. Wujudkan dalam akhlakul karimah agar kita dicintai oleh sesama makhluk dan terutama oleh Allah subhanahu Wa ta’ala

Sekarang jaman digital. Perkembangan IPTEK berpengaruh dalam setiap sendi kehidupan bangsa. Misalnya dahulu siswa dilarang memakai Android bahkan disita sekarang ini mulai dari SD sampai tingkatan sarjana bahkan guru diharapkan tidak gagal IPTEK (gaptek). Guru dan siswa memakai Android yang penting kita tetap memperhatikan bagaimana kita bermedsos yang cerdas dan berkarakter.

Terkait pemanfaatan iptek ya berarti kita memang harus cerdas namun sangatlah disayangkan manakala kita hanya mencerdaskan bangsa sementara bangsa itu tidak dibekali dengan akhlak atau karakter yang baik seperti misalnya dalam kurikulum merdeka ada enam elemen terutama di sini adalah beriman dan bertakwa sebab manakala hanya ‘kecerdasan intelektual’ tanpa kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual … tanpa bimbingan akhlak yang baik atau moral maka itu lebih membahayakan.

Nah, sanggupkah bertahan di era digital … sanggupkah bertahan di era globalisasi yang tak ada sekat antara Timur dan Barat? Jawabnya: kita punya filter. Sebagai insan, hamba Allah yang meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa kita diberi akal, punya ajaran agama. Selain itu, sebagai bangsa Indonesia kita punya filter yakni nilai-nilai Pancasila. Bukan jamannya berpangku tangan meratapi nasib ketika terkurung dalam goa sunyi tak berpenghuni. Ketika didera oleh persoalan ekonomi dan sosial maka  bawalah sisi negatif hidupmu ke arah positif. Carilah celah jarum kebaikan dalam setiap badai. Tariklah benang merah (hikmah) dari perjalanan hidup melalui ilmu dan skill.

Memang teramat mudah untuk memberikan motivasi kepada orang lain namun jiwa … jiwa seorang yang ditempa oleh keimanan dan  kesabaran akan mampu bertahan dalam terpaan badai. E, sepertinya lagu yang menjadi background gambar saya di facebook Sitti Dahlia Azis (Lia) kurang sinkron dengan tulisan ini. “Jangan pura-pura engkau menangis … seolah-olah kesedihannya itu menjadi dendam. Bersifat pemaaflah karena itu akan membuat pikiran tenang dan aktivitas akan berjalan lancar.  Ya, memang ada saatnya kita berada pada titik jenuh bila harapan dan dambaan yang dinanti berupa kejujuran dan keikhlasan disia-siakan alias dikhianati. Namun, apakah patah arang dalam berkarya itu berlaku akibat ulah orang lain? Bangkit. Kehancuran ataupun kesuksesan itu datang dari mindset kita sendiri. Setangguh apa kita menghadapi cobaan dan menerima tantangan.(sd)

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda