Dosen Unismuh Makassar Prof Munirah Muin Dorong Bahasa Daerah Memasuki Ruang Digital

SURABAYA. Dosen Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Prof Dr Hj Munirah Muin MHum, meraih tiga penghargaan dalam The 3rd APEBSKID International Conference on Multidisciplinary Studies yang digelar di Surabaya, 18–20 September 2026.Tiga penghargaan tersebut masing-masing pada kategori H-Indeks Scopus, Skor SINTA Overall, dan H-Indeks Google Scholar. Penghargaan itu menjadi apresiasi terhadap produktivitas serta rekam jejak akademik Prof Munirah dalam publikasi ilmiah.Salah satu piagam mencatat Prof Munirah sebagai penerima penghargaan H-Indeks Google Scholar dengan capaian H-Indeks 15. Penetapan penghargaan dilakukan berdasarkan hasil penelusuran dan verifikasi data akademik melalui SINTA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.Dalam konferensi internasional tersebut, Prof Munirah tidak hanya menerima penghargaan, tetapi juga tampil sebagai presenter. Ia membawakan makalah berbahasa Inggris berjudul “Utilizing Natural Language Processing Technology in Preserving Local Languages”.Judul makalah tersebut dalam bahasa Indonesia berarti “Pemanfaatan Teknologi Pemrosesan Bahasa Alami dalam Pelestarian Bahasa Daerah”.Dalam paparannya, Prof Munirah mengemukakan bahwa teknologi Natural Language Processing (NLP) dapat menjadi penghubung antara pelestarian budaya, pembelajaran digital, dan pengembangan inovasi bahasa daerah.Bahasa daerah menyimpan pengetahuan masyarakat, sejarah, nilai, serta identitas budaya. Namun, keberlangsungannya kini menghadapi berbagai tantangan, terutama melemahnya proses pewarisan bahasa antargenerasi, keterbatasan dokumentasi, dan masih rendahnya keterwakilan bahasa daerah dalam ruang digital.Sejumlah bahasa daerah juga masih digunakan terutama dalam bentuk lisan. Bahasa-bahasa tersebut belum memiliki korpus digital maupun sistem penulisan yang stabil. Oleh karena itu, pelestarian bahasa daerah perlu dikembangkan melalui teknologi yang sesuai dengan pola belajar dan komunikasi generasi muda.NLP merupakan cabang kecerdasan artifisial dan linguistik komputasional yang memungkinkan komputer mengolah bahasa manusia dalam bentuk teks, suara, maupun data multimodal.Teknologi itu dapat dimanfaatkan untuk menyusun korpus digital, mentranskripsikan arsip lisan, mengembangkan kamus cerdas, menerjemahkan teks, dan mendigitalisasi aksara lokal melalui teknologi Optical Character Recognition (OCR).NLP juga dapat digunakan dalam pengembangan chatbot pendidikan sebagai sarana latihan kosakata dan percakapan bahasa daerah.Prof Munirah turut menawarkan model pengembangan NLP berbasis komunitas. Prosesnya dimulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat, persetujuan dan tata kelola data, penyusunan korpus, pengembangan model, pembuatan aplikasi, serta evaluasi penerimaan dan dampak teknologi.Melalui pendekatan tersebut, komunitas pemilik bahasa ditempatkan sebagai mitra yang ikut menentukan proses pengumpulan, pengelolaan, penggunaan, dan keberlanjutan data bahasa.Keberhasilan teknologi bahasa, menurut materi yang dipaparkan, tidak cukup dinilai dari tingkat akurasi model. Penilaian juga perlu mempertimbangkan ketepatan unsur kebahasaan, kemudahan penggunaan, keterlibatan penutur muda, dan keberlanjutan pemanfaatannya di tengah masyarakat.Perguruan tinggi dalam hal ini dapat menjadi penghubung antara komunitas bahasa, pakar linguistik, bidang ilmu komputer, dan pendidikan melalui riset multidisipliner berkelanjutan.Konferensi itu mengusung tema “Embedding the SDGs into Culture, Language, Literature, Communication, Art and Design for a Digital Age”. Tema tersebut menekankan integrasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke dalam kebudayaan, bahasa, sastra, komunikasi, seni, dan desain pada era digital.Selain Prof Munirah, tiga dosen Unismuh Makassar turut menjadi presenter, yakni Dr Andi Paida MPd, Dr Marwiah MPd, dan Dr Haslinda MPd.Kehadiran empat dosen tersebut memperkuat kontribusi Unismuh Makassar dalam pengembangan kajian bahasa, sastra, pendidikan, kebudayaan, dan teknologi pada forum akademik internasional.(*)



