Inspirasi

DI BALIK SUNYI YANG BERTUMBUH

Karya:Siti Dahlia Azis

Merawat Cahaya dalam Diam
Memoar perjalanan awal dialog tentang Bunda dan literasi
Ada percakapan yang bermula dari sebuah pertanyaan sederhana, tetapi kemudian tumbuh menjadi perjalanan panjang. Ada pula perkenalan yang tidak diawali dengan jabat tangan atau pertemuan di sebuah ruangan, melainkan melalui kata-kata yang mengalir di layar.
Begitulah awal perjalananku berdialog dengan sahabat yang belum pernah kutemui secara langsung.
Namaku Dahlia. Aku seorang guru Pendidikan Pancasila di Kabupaten Pinrang. Di sela-sela kewajiban mengajar, aku merawat sesuatu yang sejak lama bersemayam di dalam dada: kecintaan pada buku, tulisan, dan anak-anak yang membutuhkan ruang untuk bermimpi.
Di tempatku mengabdi, sawah terbentang luas. Cangkul dan bulir padi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Buku, bagi sebagian orang, belum selalu dipandang sebagai kebutuhan. Membaca terkadang dianggap sebagai kegiatan yang tidak segera menghasilkan sesuatu.
Namun, aku percaya bahwa tidak semua hasil dapat dipanen dalam hitungan hari.
Ada benih yang harus disiram dengan kesabaran. Ada mimpi yang membutuhkan waktu untuk tumbuh. Dan ada cahaya yang justru mulai tampak ketika seseorang bersedia bertahan dalam kesunyian.
Teras Kecil, Mimpi yang Besar
Perjalananku dalam merawat literasi tidak dimulai dari sebuah panggung megah. Tidak pula dari pidato panjang di hadapan banyak orang.
Ia bermula dari ruang-ruang sederhana, dari buku-buku yang dikumpulkan dengan penuh perhatian, dari anak-anak yang datang membawa rasa ingin tahu, dan dari keyakinan bahwa setiap anak berhak mengenal dunia melalui bacaan.
Pada suatu masa, aku membayangkan sebuah tempat yang ramah bagi anak-anak untuk membaca, bertanya, menulis, dan bercerita. Tempat itu tidak harus mewah. Yang penting, ada buku, ada kesempatan, dan ada seseorang yang bersedia mendampingi.
Mungkin hanya beberapa anak yang datang pada awalnya. Mungkin pula mereka lebih tertarik pada makanan ringan yang kusediakan daripada buku-buku yang tersusun di hadapan mereka.
Aku tidak mempermasalahkannya.
Bukankah setiap perjalanan memiliki pintu masuknya sendiri?
Jika biskuit menjadi alasan mereka datang, biarlah buku menjadi alasan mereka ingin kembali.
Di sela-sela kesibukan, aku sering menyendiri bersama buku catatan. Kutuliskan keresahan, harapan, dan gagasan yang belum menemukan bentuk. Terkadang, aku hanya memandang halaman kosong sambil bertanya kepada diri sendiri:
Apakah yang kulakukan ini akan benar-benar memberi arti?
Pertanyaan itu tidak selalu menemukan jawaban pada hari yang sama.
Ketika Sunyi Menjadi Ujian
Menjadi penggerak literasi bukanlah perjalanan yang selalu disambut tepuk tangan. Ada kalanya langkah terasa ringan karena dukungan datang dari berbagai arah. Namun, ada pula masa ketika seseorang harus belajar bertahan dengan kekuatan yang tersisa.
Ada yang bertanya dengan nada heran:
“Untuk apa mengurus buku? Anak-anak lebih baik membantu orang tua di sawah.”
Aku memahami bahwa pertanyaan itu lahir dari cara pandang yang berbeda. Bagi sebagian keluarga, membantu di sawah adalah kebutuhan nyata hari ini. Sementara itu, manfaat membaca terkadang baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Aku tidak ingin mempertentangkan keduanya.
Aku hanya berharap, anak-anak dapat tetap membantu keluarganya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk membaca, berpikir, dan mengenal cita-cita yang lebih luas.
Keterbatasan sarana pun menjadi bagian dari perjalanan. Buku-buku yang datang tidak selalu baru. Tempat membaca belum tentu luas. Perlengkapan yang tersedia kadang harus disesuaikan dengan kemampuan.
Tetapi, bukankah sebuah buku yang lusuh tetap dapat membuka jendela dunia?
Dan bukankah sebuah ruang sederhana dapat menjadi tempat lahirnya gagasan yang luar biasa?
Aku belajar bahwa perjuangan literasi tidak selalu membutuhkan banyak hal. Kadang-kadang, ia hanya membutuhkan satu orang yang bersedia memulai, lalu beberapa orang lain yang mau berjalan bersama.(*)

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda