Best Practic

JALAN PANJANG MENJADI GURU: CERMIN SYUKUR BAGI GENERASI P3K

Oleh: Dra. Sitti Dahlia Azis

Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, keluhan tentang padatnya tugas daring dan beban administrasi kerap mewarnai ruang publik. Fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika profesi guru hari ini. Namun, di tengah berbagai tuntutan itu, diperlukan pula literasi sejarah profesi agar generasi pendidik masa kini tidak kehilangan perspektif tentang panjangnya perjalanan menjadi seorang guru.
Sebagai guru yang kini menanti masa purna bakti, saya merasa perlu menghadirkan sebuah cermin pembanding—bukan untuk membanggakan masa lalu atau membanding-bandingkan kesulitan antargenerasi, melainkan untuk menumbuhkan rasa syukur, ketangguhan mental, dan semangat pengabdian bagi generasi guru Aparatur Sipil Negara, termasuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).
Pada masa lalu, menjadi guru PNS bukanlah proses yang instan. Seleksi harus dilalui melalui serangkaian tes yang cukup ketat, kemudian dilanjutkan dengan Litsus dan pendidikan prajabatan dengan pola pembinaan yang bernuansa semi-militer. Proses tersebut saya jalani di Rindam VII, dengan penekanan pada pembentukan disiplin, loyalitas, kepatuhan terhadap aturan, serta ketahanan fisik dan mental.
Berbagai latihan yang cukup berat menjadi bagian dari proses tersebut. Longmars, halang rintang, tiarap, hingga konsekuensi fisik bagi peserta yang melanggar aturan menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Bahkan, pelanggaran tertentu dapat berujung pada sanksi seperti mengangkat kasur mengelilingi lapangan.
Hal-hal yang kini mungkin terasa sederhana pun dahulu menjadi bagian dari latihan kedisiplinan. Mandi dan makan harus dilakukan dengan tertib, antre, bahkan terkadang berdesakan. Setiap pelanggaran memiliki konsekuensi langsung, termasuk jalan jongkok, tanpa banyak ruang untuk bernegosiasi.
Peserta diklat berada dalam pengawasan para prajurit, sementara pelatih berasal dari kalangan perwira. Bagi saya, situasi tersebut memberikan sebuah pelajaran penting: dalam menjalankan tugas, seseorang perlu belajar tunduk pada sistem dan aturan, bukan memperturutkan ego pribadi.
Semua proses itu dijalani tanpa publikasi, tanpa dokumentasi digital, dan tanpa harapan akan apresiasi instan. Tidak ada kamera yang setiap saat siap mengabadikan perjuangan, apalagi media sosial untuk membagikan setiap pencapaian. Orientasi utamanya sederhana: menyelesaikan proses pendidikan, memenuhi persyaratan, dan mempersiapkan diri untuk mengabdi sebagai aparatur negara di bidang pendidikan.
Tentu, zaman telah berubah. Tantangan yang dihadapi guru P3K hari ini memiliki bentuk dan karakter yang berbeda. Beban administrasi, tuntutan pembelajaran berbasis teknologi, pelaporan, serta berbagai tugas daring juga membutuhkan waktu, energi, kemampuan beradaptasi, dan ketekunan. Karena itu, pengalaman generasi terdahulu tidak sepatutnya digunakan untuk meniadakan kesulitan yang dihadapi guru masa kini.
Yang perlu dibangun justru adalah perspektif. Perbedaan konteks antargenerasi perlu dibaca secara literat agar setiap pendidik mampu melihat profesinya secara lebih utuh. Jika dahulu ketahanan banyak ditempa melalui latihan fisik dan kedisiplinan yang ketat, guru masa kini menghadapi tuntutan untuk terus belajar, beradaptasi dengan teknologi, mengelola administrasi, dan tetap menjaga kualitas pembelajaran serta karakter peserta didik.
Opini ini sama sekali tidak bermaksud mengecilkan perjuangan guru P3K. Setiap zaman memiliki tantangan dan kompleksitasnya sendiri. Namun, ketika keluhan lebih dominan daripada refleksi, ada risiko bahwa rasa lelah justru mengikis semangat pengabdian. Keluhan boleh hadir sebagai ungkapan manusiawi, tetapi jangan sampai mengalahkan kesadaran bahwa menjadi guru adalah sebuah amanah.
Menjadi guru, baik PNS maupun P3K, sejatinya merupakan perjalanan pengabdian. Profesi ini menuntut keteguhan karakter, kesiapan mental, kemauan untuk terus belajar, dan kesediaan menjalani proses. Teknologi semestinya menjadi alat untuk memperkuat kinerja dan memperluas manfaat.(*)

Facebook Comments
What's Your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Adblock Terdeteksi !

Maaf Matikan dulu Adblock anda